Hormuz Membeku, Minyak Melompat!
Harga minyak kembali melonjak setelah Amerika Serikat dan Iran saling melancarkan serangan baru, sementara status Selat Hormuz masih diperdebatkan. Iran menyatakan jalur tersebut ditutup sampai pemberitahuan lebih lanjut, tetapi Komando Pusat AS atau CENTCOM membantah klaim itu dan menyebut pasukannya kembali menyerang untuk memastikan kebebasan navigasi tetap berjalan.
Brent naik menuju US$79 per barel setelah menguat 5,4% sepanjang pekan lalu. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI bergerak mendekati US$74 per barel. Pada pukul 08.20 waktu Singapura, Brent untuk pengiriman September naik 3,5% ke US$78,64 per barel, sedangkan WTI untuk pengiriman Agustus menguat 3,6% ke US$73,95 per barel.
Serangan terbaru pada Minggu sore menjadi serangan keempat AS dalam sepekan. CENTCOM menyatakan serangan dilakukan sebagai respons atas serangan Iran terhadap kapal kontainer berbendera Siprus. Laporan lain juga menyebut Garda Revolusi Iran kembali menembaki kapal komersial, sementara pesawat AS disebut mencegat rudal jelajah dan drone serang Iran.
Ketidakpastian di Selat Hormuz kembali memasukkan premi perang ke dalam harga minyak. Jalur ini sangat penting karena biasanya dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair global. Lalu lintas kapal melalui Hormuz dilaporkan hampir tidak terlihat pada Senin, meski jalur pelayaran selatan yang dikoordinasikan Oman masih dinyatakan tersedia.
Prospek diplomasi juga semakin meredup. Ketua Parlemen Iran sekaligus negosiator utama, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan era kesepakatan sepihak sudah berakhir. Teheran menegaskan Washington harus lebih dulu menghormati komitmen sebelumnya terkait transit Hormuz dan normalisasi ekspor minyak Iran sebelum pembicaraan dapat dilanjutkan.
Risiko terbesar bagi pasar adalah jika konflik mulai menyasar infrastruktur energi secara lebih luas. Serangan terhadap fasilitas pengeboran minyak di Kuwait menjadi sinyal serius karena menjadi serangan langsung pertama terhadap infrastruktur minyak dalam beberapa pekan. Jika eskalasi melebar ke fasilitas energi regional, analis memperingatkan harga minyak berpotensi bergerak menuju US$100 per barel.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id