Emas Melemah, Iran dan CPI AS Jadi Tekanan
Harga emas melemah pada perdagangan Senin (13/7) setelah Amerika Serikat dan Iran kembali saling melancarkan serangan pada akhir pekan. Ketegangan baru ini mendorong harga energi lebih tinggi dan kembali memunculkan kekhawatiran bahwa inflasi bisa meningkat, sehingga peluang kenaikan suku bunga The Fed kembali menjadi perhatian pasar.
Emas sempat turun hingga 1,2% ke bawah US$4.070 per troy ounce, setelah sepanjang pekan lalu melemah 1,4%. Pada pukul 07.40 waktu Singapura, emas spot turun 1% ke level US$4.077,77 per troy ounce. Perak juga turun 1,7% ke US$58,83 per ounce, sementara platinum dan palladium ikut melemah.
Fokus pasar tertuju pada status Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan energi global. Iran sempat menyatakan jalur tersebut akan ditutup sampai pemberitahuan lebih lanjut, namun Amerika Serikat membantah pernyataan itu. Militer AS menyatakan serangan dilakukan untuk memastikan kebebasan navigasi di kawasan tersebut tetap berjalan.
Bagi pasar emas, eskalasi konflik ini tidak langsung menjadi sentimen positif. Penyebabnya, kenaikan harga minyak dapat memperkuat tekanan inflasi dan membuat Federal Reserve mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Risalah rapat The Fed bulan Juni yang dirilis pekan lalu juga menunjukkan beberapa pejabat sempat melihat alasan untuk menaikkan suku bunga, meski akhirnya sepakat menahan kebijakan.
Selain konflik Timur Tengah, investor juga menanti data inflasi konsumen AS bulan Juni dan penampilan pertama Kevin Warsh di hadapan Kongres sebagai Ketua The Fed. Dua agenda ini dinilai penting karena dapat memberi arah baru terhadap ekspektasi suku bunga Juli. Jika data inflasi lebih tinggi dari perkiraan atau Warsh terdengar hawkish, tekanan terhadap emas berpotensi berlanjut.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id