Emas Turun 1%, Minyak Naik dan Dolar Menguat Tekan Bullion
Harga emas melemah pada Rabu (3/6) karena pasar kembali menilai inflasi yang dipicu perang bisa membuat suku bunga bertahan tinggi lebih lama. Emas spot turun 1% ke US$4.440,99/oz, sementara kontrak berjangka emas AS ditutup turun 1,2% di US$4.466,90.
Ketegangan di Teluk kembali memanas setelah serangan Iran ke Kuwait dilaporkan merusak bandara dan melukai puluhan orang, sementara militer AS melakukan serangan di sekitar Selat Hormuz. Jalur diplomasi terlihat belum menunjukkan kemajuan berarti, sehingga pasar kembali memasukkan premi risiko energi.
Kenaikan harga energi dinilai bisa mengangkat ekspektasi inflasi, yang pada gilirannya memperbesar peluang suku bunga tetap ketat. Meski emas sering dipandang sebagai lindung nilai inflasi, aset ini cenderung kurang menarik saat suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil.
Seiring minyak menguat, indeks dolar (DXY) naik untuk hari ketiga berturut-turut, menambah tekanan pada logam mulia berdenominasi USD. Dolar yang lebih kuat membuat emas lebih mahal bagi pembeli non-USD, sehingga mengurangi permintaan.
Dari sisi The Fed, Presiden Fed New York John Williams kembali mengatakan belum melihat kebutuhan mengubah suku bunga jangka pendek. Namun Presiden Fed Cleveland Beth Hammack memberi sinyal The Fed bisa perlu menaikkan suku bunga jika tekanan inflasi yang sudah tinggi terus meningkat. Pasar kini menunggu NFP Mei pada Jumat sebagai penentu besar arah kebijakan, setelah laporan ADP menunjukkan payroll swasta naik lebih kuat dari perkiraan.
Di logam lain, tekanan juga meluas: perak spot turun 2,2% ke US$73,4/oz, platinum turun 3,5% ke US$1.868,58, dan palladium turun 3,5% ke US$1.321,97.(arl)
Sumber: Newsmaker.id