Konflik Naik, Emas Turun: Fokus Beralih ke Inflasi Energi
Emas bergerak tarik menarik pada Kamis (04/6) di sesi perdagangan Asia, terseret oleh meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral mungkin perlu menaikkan suku bunga untuk meredam tekanan inflasi yang dipicu lonjakan harga energi akibat konflik di Timur Tengah.
Di pasar spot, emas diperdagangkan di sekitar US$4.460 per ons. Secara mingguan, harga tercatat turun hampir 2%, mencerminkan dominasi sentimen suku bunga dibanding dukungan aset lindung nilai.
Kekhawatiran inflasi menguat seiring konflik yang berkepanjangan dan kondisi yang nyaris menghentikan aktivitas di Selat Hormuz, jalur penting distribusi energi. Energi yang tetap mahal dinilai berpotensi menambah tekanan harga dan memperkuat narasi kebijakan moneter yang lebih ketat.
Di sisi geopolitik, harapan kesepakatan damai meredup setelah AS dan Iran saling melancarkan serangan, dengan Bahrain dan Kuwait ikut terdampak dalam eskalasi paling serius sejak gencatan senjata berlaku pada awal April. Meski tensi meningkat, pasar tampak lebih menekankan risiko inflasi dan respons suku bunga terhadap pergerakan emas.
Dari AS, Presiden Cleveland Fed Beth Hammack menyebut The Fed bisa dipaksa menaikkan suku bunga dalam waktu dekat bila tekanan inflasi terus menguat. Investor kini menunggu rilis nonfarm payrolls (NFP) pada Jumat untuk membaca arah kebijakan The Fed berikutnya.
5 inti poin:
- Emas tertekan karena pasar menaikkan ekspektasi kenaikan suku bunga untuk menahan inflasi energi.
- Harga emas sekitar US$4.460/ons dan turun hampir 2% sepanjang pekan.
- Kenaikan harga energi terkait konflik dan gangguan di Selat Hormuz memperkuat kekhawatiran inflasi.
- Eskalasi AS–Iran menambah risiko geopolitik, tetapi fokus pasar tetap pada kanal inflasi dan kebijakan.
- Komentar pejabat Fed dan data NFP Jumat menjadi acuan utama ekspektasi suku bunga.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id