Emas Stabil, Ketegangan AS-Iran Angkat Lagi Risiko Inflasi!
Harga emas cenderung stabil pada sesi Asia Jumat (08/5) setelah optimisme soal peluang kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz memudar. Pasar kembali menghadapi ketidakpastian geopolitik setelah muncul laporan serangan terhadap kapal Angkatan Laut AS di kawasan tersebut.
Emas spot diperdagangkan di sekitar $4.708 per ons, naik 0,3% pada pukul 07:24 di Singapura, setelah sesi sebelumnya ditutup sedikit lebih rendah. Secara mingguan, emas tercatat naik 1,8%.
Eskalasi terjadi setelah AS menyerang target militer di Iran, menyusul aksi Iran yang dilaporkan menembaki tiga kapal perusak yang melintas di Selat Hormuz. Perkembangan ini meredupkan harapan pasar terhadap kesepakatan yang sebelumnya sempat menopang sentimen, sementara AS disebut tengah menunggu respons Iran atas proposal pembukaan kembali jalur tersebut, yang krusial bagi arus energi.
Di sisi fundamental, narasi perang dan gangguan energi tetap memunculkan kekhawatiran bahwa tekanan inflasi bisa bertahan lebih lama. Dalam konteks itu, ekspektasi suku bunga yang lebih tinggi serta penguatan dolar AS cenderung menjadi faktor penahan bagi emas, karena emas tidak memberi imbal hasil bunga dan harganya berdenominasi dolar.
Sejak konflik meletus, emas disebut telah turun sekitar 11%, seiring kekhawatiran lonjakan harga energi yang berpotensi memperkuat pandangan “suku bunga lebih tinggi lebih lama”. Indeks dolar Bloomberg terpantau naik 0,1% pada hari itu, meski masih turun 0,2% untuk pekan berjalan.
Pasar kini menunggu rilis perubahan nonfarm payrolls AS yang dijadwalkan rilis Jumat untuk membaca arah suku bunga berikutnya, di tengah komentar sebagian pejabat The Fed yang meredam peluang kembali ke pelonggaran kebijakan karena perang menambah ketidakpastian. Variabel yang akan dipantau pelaku pasar mencakup perkembangan di Selat Hormuz, pergerakan dolar, dan sinyal kebijakan The Fed yang tercermin dari data tenaga kerja.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id