Saham Asia Turun, Minyak Naik!
Saham Asia terkoreksi dari level rekor, sementara harga minyak menguat, setelah ketegangan terbaru antara AS dan Iran kembali memunculkan kekhawatiran gangguan pasokan energi. Pergerakan ini menguji ketahanan reli ekuitas regional yang dalam beberapa sesi terakhir ditopang sentimen risiko dan tema kecerdasan buatan.
Indeks MSCI Asia Pacific turun 0,9% pada pembukaan. Sejumlah indikator pasar turut melemah, dengan Topix Jepang turun 0,7%, S&P/ASX 200 Australia turun 1,2%, dan Hang Seng futures melemah 0,9%. Kontrak berjangka saham AS bergerak mendatar, setelah sempat menghapus pelemahan di awal sesi.
Di sisi komoditas, Brent naik 2,3% ke atas $102 per barel, seiring kekhawatiran krisis Timur Tengah akan memperpanjang penutupan Selat Hormuz yang krusial bagi arus energi. Dolar AS menguat, sementara imbal hasil Treasury AS tenor 10 tahun mempertahankan kenaikan dari sesi sebelumnya, mencerminkan pasar kembali menilai risiko geopolitik dan inflasi energi.
Pemicu utamanya adalah bentrokan di Selat Hormuz. Komando Pusat AS menyatakan pasukannya merespons serangan Iran terhadap kapal perusak Angkatan Laut AS saat melintas pada Kamis. Presiden Donald Trump, melalui unggahan media sosial, menyampaikan pernyataan keras terkait respons AS, namun dalam wawancara telepon dengan ABC News ia juga menyebut gencatan senjata dengan Iran masih “berlaku”.
Meski saham melemah, pelaku pasar belum sepenuhnya meninggalkan narasi risk-on. Sejumlah investor sebelumnya kerap “melihat lewat” headline geopolitik, sehingga ekuitas tetap bertahan dekat rekor di tengah kebangkitan kembali perdagangan bertema AI. Namun, komentar dari beberapa pelaku pasar menyoroti reli yang cepat dengan pendorong terbatas membuat ekuitas lebih rentan terhadap aksi ambil untung saat berita negatif muncul.
Laporan Wall Street Journal menyebut AS berupaya menghidupkan kembali inisiatif untuk mengawal kapal-kapal yang terjebak melintasi Hormuz, yang sempat dihentikan awal pekan ini dan dijuluki Trump sebagai “Project Freedom”. Washington disebut masih menunggu respons Teheran atas proposal pembukaan kembali selat, sementara seorang pejabat Iran dikutip mengatakan negaranya tidak akan menyetujui pembukaan dengan rencana yang dianggap “tidak realistis”. Di sisi lain, agenda politik-ekonomi AS juga mendapat tekanan setelah pengadilan perdagangan federal menyatakan tarif global 10% Trump melanggar hukum.
Ke depan, pasar menunggu data tenaga kerja AS, termasuk rilis payrolls pada Jumat, untuk membaca arah suku bunga di tengah ketidakpastian geopolitik. Variabel yang akan dipantau pelaku pasar mencakup perkembangan arus kapal di Selat Hormuz, pergerakan minyak dan dolar, serta apakah reli ekuitas yang didorong tema AI mampu bertahan jika volatilitas geopolitik meningkat.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id