Minyak Menguat, Inflasi Energi Bayangi Rapat The Fed-ECB-BoJ
Harga minyak menguat tajam pada perdagangan Eropa hari Selasa (17/3), dengan Brent tetap bertahan di atas US$100 per barel karena kekhawatiran gangguan pasokan akibat perang AS-Israel melawan Iran masih dominan. Kenaikan ini terjadi setelah crude sempat turun sekitar 5% pada sesi sebelumnya, ketika muncul laporan sebagian kapal berhasil melintas di Selat Hormuz.
Kontrak Brent naik 2,8% ke US$103,01 per barel, sementara WTI menguat 2,6% ke US$95,54. Pemulihan harga mencerminkan pasar yang menilai pelintasan terbatas belum cukup mengubah gambaran besar, mengingat jalur pengapalan di Hormuz masih sebagian besar tersendat dan permintaan AS agar sekutu membantu “memolisikan” selat itu disebut belum mendapat respons luas.
Konflik juga belum menunjukkan tanda mereda saat memasuki pekan ketiga. Iran mengancam akan menyerang industri yang berafiliasi dengan AS di Timur Tengah setelah serangan pekan lalu terhadap Pulau Kharg, terminal ekspor utama Iran. Iran dan Israel dilaporkan saling melancarkan serangan udara pada Selasa dini hari, sementara drone dan roket juga dilaporkan ditembakkan ke sebuah kedutaan AS di Baghdad.
Selat Hormuz kembali menjadi titik fokus karena biasanya menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak dunia. Iran disebut efektif memblokir selat itu pada awal bulan ini, namun laporan pada Senin menyebut beberapa tanker gas berbendera India dan Pakistan berhasil melintas. Iran sebelumnya memberi sinyal kapal dari negara tertentu bisa lewat, sementara kapal yang terkait AS dan sekutunya tetap berisiko menjadi target.
Kenaikan minyak sejak perang pecah memperkuat kekhawatiran inflasi berbasis energi, terutama bagi ekonomi Asia yang sangat bergantung pada impor melalui Hormuz. Pasar kini menilai tekanan inflasi tersebut berpotensi mendorong bank sentral global mengambil sikap lebih hawkish, dengan rapat kebijakan The Fed, ECB, dan BoJ dijadwalkan berlangsung pekan ini. (Arl)
Sumber : Newsmaker.id