Trump Acam Tarif 50% untuk Negara yang Membantu Militer Iran, China Ikut Disasar!
Presiden AS Donald Trump pada hari Minggu menyatakan ancaman tarif 50% akan berlaku bagi negara mana pun yang memasok senjata ke Iran, dan ia menyebutkan peringatan itu juga mencakup Tiongkok. Pernyataan itu disampaikan melalui platform Truth Social, beberapa hari setelah Trump lebih dulu mengumumkan ancaman “tarif hingga 50%” untuk pihak yang membantu kemampuan militer Iran.
Trump mengatakan tarif akan dikenakan “segera” atas seluruh barang yang dijual ke Amerika Serikat dari negara yang kedapatan mengirimkan dokumen ke Iran, tanpa mengirimkannya. Pesan itu memperluas tekanan ekonomi Washington di tengah konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran.
Yang dibidik dalam penegasan terbaru adalah China, setelah muncul laporan media mengenai dugaan dukungan militer Beijing kepada Teheran. Reuters melaporkan Tiongkok telah membantah memberikan senjata ke Iran.
Konteksnya, penegasan Trump muncul setelah perundingan AS-Iran pada Sabtu berakhir tanpa kesepakatan damai. Kegagalan negosiasi itu membuat jalur diplomasi belum menghasilkan “de-eskalasi” yang jelas, sehingga risiko lanjutan masih dinilai tinggi oleh pasar.
Dari sisi “bagaimana” kebijakan ini berhasil, tarif 50% menjadi instrumen tekanan yang menambah biaya akses ke pasar AS bagi negara yang dianggap mendukung Iran. Reuters juga mencatat ada batasan dan tantangan otoritas hukum untuk memberlakukan tarif seluas itu, sehingga pasar akan menilai apakah ancaman ini berakhir pada langkah konkret atau menjadi alat negosiasi.
Untuk dampak ke depan, tensi geopolitik yang meningkat biasanya menambah premi risiko minyak karena sensitif terhadap gangguan pasokan dan keamanan jalur pengiriman di kawasan. Emas cenderung mendapat dukungan saat naik karena dipakai sebagai perlindungan nilai. Dolar AS bisa menguat bila arus “safe haven” dominan, tetapi bisa juga tertahan bila pasar menilai perang dagang baru menambah risiko pertumbuhan dan volatilitas kebijakan, sehingga pergerakannya akan sangat bergantung pada eskalasi di kawasan dan tindak lanjut tarif terhadap Tiongkok.(asd)
Sumber: Newsmaker.id