$5.000 Ditembus! Investor Kabur dari Dolar & Obligasi
Harga emas menembus $5.000 per ons dan mencetak rekor baru di awal pekan, saat investor berbondong-bondong mencari aset aman di tengah ketidakpastian geopolitik dan ekonomi global. Lonjakan ini juga ikut mengerek perak dan logam mulia lain ke level tertinggi.
Kenaikan emas didorong kombinasi “risk-off” dan melemahnya dolar. Spot gold sempat menyentuh rekor sekitar $5.092,71 dan diperdagangkan di kisaran $5.081,18 pada awal Senin, sementara futures emas AS juga naik lebih dari 2%.
Salah satu pemicu risk-off adalah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap langkah-langkah kebijakan AS yang dinilai sulit diprediksi, termasuk eskalasi isu tarif. Trump mengancam akan mengenakan tarif 100% pada barang Kanada jika Kanada membuat kesepakatan dagang dengan China, sehingga pasar menilai risiko perang dagang bisa melebar.
Kanada merespons cepat. Perdana Menteri Mark Carney mengatakan Kanada menghormati komitmen di USMCA dan tidak berniat mengejar perjanjian perdagangan bebas dengan China, meski Ottawa tetap berupaya menyelesaikan beberapa isu dagang terbaru dengan Beijing.
Dari sisi mata uang, emas juga diuntungkan oleh pelemahan dolar yang membuat logam mulia lebih murah bagi pembeli di luar AS. Reuters mencatat pelemahan dolar ikut dipengaruhi penguatan yen dan kehati-hatian investor menjelang pertemuan Federal Reserve.
Di belakang layar, permintaan “struktural” emas juga tetap kuat. Reuters menyoroti adanya dukungan dari pembelian bank sentral (termasuk China yang disebut menambah cadangan selama 14 bulan berturut-turut) serta peningkatan arus masuk ke ETF emas—faktor yang menjaga reli tetap bertenaga meski harga sudah sangat tinggi.
Reli tidak hanya terjadi di emas. Perak juga melonjak tajam dan menyentuh rekor baru, dengan Reuters mencatat perak sempat naik sekitar 5,7% ke $108,91, sementara platinum dan palladium juga menguat. Kondisi ini menunjukkan arus safe-haven sedang menyapu hampir seluruh kompleks logam mulia.
Ke depan, pelaku pasar akan memantau dua hal: apakah tensi kebijakan (tarif dan geopolitik) terus memanas, serta bagaimana sinyal The Fed pada keputusan suku bunga pekan ini. Dalam kondisi seperti sekarang, volatilitas bisa tinggi—harga bisa terkoreksi sesaat karena aksi ambil untung, tetapi arus safe-haven cenderung bertahan selama ketidakpastian global belum mereda.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id