Emas Mengarah ke Penurunan Mingguan Kedua Saat Dolar Menguat dan Minyak Naik
Harga emas bergerak menguat tipis pada Jumat, namun tetap berada di jalur penurunan mingguan kedua berturut-turut, seiring penguatan dolar dan reli lanjutan harga minyak di tengah perang di Timur Tengah. Bullion sempat bertahan di atas US$5.100 per ons, tetapi secara mingguan masih turun lebih dari 1%.
Tekanan utama datang dari kombinasi dolar yang lebih kuat dan perubahan ekspektasi suku bunga. Indeks dolar Bloomberg tercatat naik sekitar 0,4% pekan ini. Di saat yang sama, lonjakan harga energi memperbesar kekhawatiran inflasi, yang pada gilirannya menekan harapan pemangkasan suku bunga oleh Federal Reserve dan bank sentral lain.
Data klaim pengangguran AS terbaru yang tetap relatif rendah memperkuat persepsi bahwa pelonggaran kebijakan moneter tidak mendesak. Obligasi pemerintah AS jatuh pada Kamis, mendorong imbal hasil jangka pendek ke level tertinggi sejak Agustus. Pelaku pasar kini melihat nyaris tidak ada peluang pemangkasan suku bunga pada pertemuan The Fed pekan depan, dan hanya sekitar 70% peluang pemangkasan tahun ini. Kenaikan biaya pinjaman umumnya negatif bagi emas karena tidak memberikan imbal hasil bunga.
Perang AS-Israel dengan Iran juga mengubah dinamika safe haven emas dalam dua pekan terakhir. Perdagangan emas cenderung berombak, dengan sebagian investor menjual untuk menutup margin call di aset lain. Meski demikian, emas masih naik sekitar 18% sepanjang tahun berjalan dan relatif bertahan di atas ambang US$5.000 per ons.
Risiko utama berikutnya adalah jika konflik berkepanjangan menjaga harga minyak tetap tinggi, karena dapat memperkuat tekanan inflasi dan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, menambah hambatan bagi logam mulia. International Energy Agency menyebut perang memicu gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global, sementara para anggotanya menyepakati pelepasan rekor 400 juta barel cadangan darurat.
Pada pukul 08.05 di Singapura, spot gold naik 0,4% ke US$5.099,98 per ons. Perak naik 0,4% ke US$84,18, sementara platinum dan palladium juga menguat. Ke depan, pasar memantau arah dolar, pergerakan imbal hasil AS jelang pertemuan The Fed, serta perkembangan konflik dan dampaknya pada harga energi dan ekspektasi inflasi.(asd)
Sumber: Newsmaker.id