Emas Tembus $4.700, Talks AS–Iran Mandek Tekan Bullion!
Harga emas turun di bawah $4.700 per ons pada Senin, melanjutkan pelemahan pekan lalu setelah upaya menghidupkan kembali negosiasi damai AS–Iran kembali tersendat. Pasar juga masih dibayangi kondisi Selat Hormuz yang efektif tertutup, yang menjaga risiko pasokan energi dan tekanan inflasi tetap tinggi.
Tekanan diplomatik menguat setelah Presiden AS Donald Trump membatalkan rencana perjalanan utusan senior untuk melanjutkan pembicaraan dengan Iran di Islamabad. Di sisi lain, Teheran kembali menegaskan tidak akan bernegosiasi selama berada di bawah ancaman atau blokade, sehingga jalur komunikasi dinilai rapuh dan sangat bergantung pada headline.
Sementara itu, minyak menguat seiring konflik Timur Tengah memasuki pekan kesembilan. Penguatan minyak mempertegas kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi berkepanjangan, yang disebut IEA sebagai guncangan pasokan energi terbesar yang pernah tercatat, dan meningkatkan sensitivitas pasar terhadap risiko inflasi.
Kenaikan harga energi memperkuat ekspektasi bahwa bank sentral akan mempertahankan suku bunga lebih tinggi lebih lama, atau bahkan mengetatkan kembali bila tekanan harga meluas. Lingkungan suku bunga ketat ini menjadi hambatan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil, sehingga pelemahan emas terjadi meski ketidakpastian geopolitik biasanya mendukung permintaan lindung nilai.
Di Amerika Serikat, Federal Reserve juga diperkirakan bergerak hati-hati karena ingin menilai dampak konflik terhadap inflasi dan pertumbuhan. Narasi pasar menyiratkan pemangkasan suku bunga—jika terjadi—akan bertahap di bawah Ketua The Fed yang baru, Kevin Warsh, sehingga emas masih sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga dan arah dolar.
Ke depan, selama talks belum pulih dan risiko pasokan energi belum mereda, minyak cenderung tetap volatil dengan bias ditopang premi risiko. Untuk emas, dukungan dari risk-off bisa muncul sewaktu-waktu, tetapi kenaikan cenderung tertahan jika inflasi energi mendorong ekspektasi suku bunga bertahan ketat dan dolar tetap kuat sebagai safe haven. Pasar akan terus headline-driven, sehingga perubahan kecil pada sinyal diplomasi atau kondisi pelayaran dapat memicu pergerakan tajam lintas aset.(asd)*
Source: Newsmaker.id