• Tue, Apr 7, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

2 April 2026 14:51  |

Ancaman Inflasi Kembali Meningkat Seiring dengan Pulihnya Harga Minyak

Pasar mulai kembali mewaspadai inflasi setelah harga energi melonjak tajam di tengah gangguan pasokan dari Timur Tengah. Kenaikan minyak bukan hanya soal biaya bahan bakar, tetapi juga berpotensi menjalar ke ongkos distribusi, logistik, manufaktur, hingga kebutuhan rumah tangga. Reuters melaporkan nowcast Cleveland Fed memperkirakan inflasi headline AS April naik ke 3,71% dari 3,25% pada Maret, sementara PCE diperkirakan naik ke 3,58% dari 3,28%. Menariknya, inflasi inti relatif lebih stabil, yang menunjukkan tekanan utama saat ini datang dari sisi energi.

Risiko ini menjadi lebih serius karena gangguan pasokan diperkirakan belum selesai dalam waktu dekat. IEA memperingatkan gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah akan meningkat pada April, dengan kehilangan pasokan yang disebut bisa menjadi dua kali lipat dibanding Maret. Reuters juga menulis bahwa lebih dari 12 juta barel pasokan sudah hilang, dan dampaknya mulai terasa ke Eropa lewat kekurangan diesel dan bahan bakar jet.

Tekanan harga tidak berhenti di minyak mentah. Reuters melaporkan Saudi Aramco dan Sonatrach menaikkan harga jual resmi LPG April sekitar 38% hingga 80%, memperlihatkan bahwa shock energi mulai menyebar lebih luas. Kalau kondisi ini berlanjut, tekanan inflasi bisa merembet ke sektor rumah tangga dan industri, karena energi adalah komponen dasar bagi banyak biaya produksi dan transportasi.

Dampaknya juga mulai terlihat pada prospek pertumbuhan. Di Jerman, lembaga-lembaga ekonomi utama memangkas proyeksi pertumbuhan 2026 menjadi 0,6% dari 1,3%, sambil menaikkan proyeksi inflasi 2026 menjadi 2,8%. Artinya, pasar kini menghadapi risiko klasik: pertumbuhan melemah, tetapi harga-harga justru naik lagi.

Buat bank sentral, situasi ini jelas tidak nyaman. Reuters mencatat banyak bank sentral global kini memilih menahan suku bunga karena perang dan gejolak energi membuat arah inflasi dan pertumbuhan sama-sama sulit dibaca. Dengan kata lain, kalau oil shock bertahan, ruang pemangkasan suku bunga bisa makin sempit dan biaya pinjaman berisiko tetap tinggi lebih lama.(Zaf)

Sumber: Newsmaker.id

Related News

FISCAL & MONETARY

Australia Pangkas Suku Bunga Tunai ke Level Terendah 2 Tahun...

Bank Sentral Australia (RBA) memangkas suku bunga tunai sebesar 25bps menjadi 3,85% pada pertemuan bulan Mei, pemangkasan suk...

20 May 2025 12:13
FISCAL & MONETARY

Bank of Japan Main Aman, Pengurangan JGB Bakal Dipangkas?

Bank of Japan (BoJ) diperkirakan akan mempertahankan suku bunga jangka pendek tidak disesuaikan pada 0,5% setelah tinjauan ke...

17 June 2025 08:18
FISCAL & MONETARY

Barkin: Inflasi “Menggembirakan”, Tapi Fed Belum Mau Bur...

Presiden Federal Reserve Richmond, Tom Barkin, menilai data inflasi AS bulan Desember sebagai “menggembirakan”. Namun ia ...

14 January 2026 09:57
FISCAL & MONETARY

Kepala BOJ Berjanji Untuk Meneliti Dampak Tarif AS Dalam Men...

Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda mengatakan pada hari Rabu (9/4) bahwa bank sentral akan menganalisis dengan cermat bagaiman...

9 April 2025 08:28
BIAS23.com BIAS23.com NM23 Ai