Proposal Iran Angkat Sentimen, Dolar Turun Tipis
Dolar AS turun tipis pada Senin (27/4) ketika harapan kesepakatan untuk mengakhiri perang Timur Tengah kembali naik-turun, membuat investor cenderung menahan posisi menjelang rangkaian rapat bank sentral pekan ini. Indeks dolar (DXY) turun 0,3% ke 98,32, sementara Brent naik 1% ke US$106,40/barel.
Sentimen sempat terbantu laporan Axios bahwa Iran menyampaikan proposal baru kepada AS melalui mediator Pakistan terkait pembukaan kembali jalur pelayaran dan pengakhiran perang, dengan pembahasan nuklir ditunda ke tahap berikutnya. Namun sebagian pelaku pasar menilai isu nuklir tetap menjadi titik ganjal utama, karena kesepakatan yang tidak menyentuh program nuklir Iran berisiko sulit secara politik di AS.
Pergerakan dolar mencerminkan tarik-menarik dua kanal. Di satu sisi, eskalasi perang sebelumnya membuat dolar diuntungkan sebagai aset aman pada Maret. Di sisi lain, harapan diplomasi sejak awal April mengikis premi safe haven itu, meski dolar cenderung stabil lagi belakangan setelah pembicaraan AS–Iran sempat mandek.
Di G10, EUR/USD naik 0,15% ke US$1,1741. Pasar menilai Fed kemungkinan besar menahan suku bunga, dan ECB juga diperkirakan tetap menahan pada rapat pekan ini meski bias kebijakan dinilai lebih hawkish untuk merespons guncangan energi bagi kawasan importir minyak.
Fokus Asia tertuju pada yen yang kembali “terkunci” mendekati level sensitif 160. USD/JPY turun ke 159,17, menjelang keputusan Bank of Japan pada Selasa yang diperkirakan menahan suku bunga namun memberi sinyal kesiapan mengetatkan paling cepat Juni. Level 160 tetap menjadi area yang diawasi pasar karena berpotensi memunculkan kembali isu intervensi jika sinyal BOJ terdengar terlalu dovish.
Pasar akan memantau konfirmasi pertemuan lanjutan AS–Iran dan detail proposal, dinamika arus Hormuz melalui pergerakan minyak, serta nada pernyataan Fed, ECB, dan BOJ—terutama respons yen di sekitar 160. (Arl)*
Sumber: Newsmaker.id