Hezbollah Tolak Gencatan Senjata, Prospek Perdamaian Iran-Israel Terancam
Gerakan pro-Iran Hezbollah menolak gencatan senjata baru di Lebanon pada Kamis (4/5), sementara Israel menegaskan tidak akan menarik pasukannya dari negara itu. Langkah ini melemahkan upaya Presiden AS Donald Trump untuk menghentikan pertempuran demi mendorong perdamaian dengan Teheran.
Iran menegaskan bahwa gencatan senjata di Lebanon menjadi syarat utama bagi setiap kesepakatan damai dengan Washington. Dalam beberapa hari terakhir, Teheran bahkan mengisyaratkan kemungkinan ikut campur secara langsung untuk mendukung proxy-nya, Hezbollah, jika Israel melanjutkan atau meningkatkan serangan.
Presiden Lebanon Joseph Aoun menyatakan gencatan senjata akan mulai berlaku dalam 24 jam setelah semua pihak terkait menyetujuinya. Namun, pemimpin Hezbollah, Naim Qassem, menolak pernyataan Washington, menegaskan bahwa “perlawanan akan tetap berlanjut.” Tidak ada tanggapan langsung dari Israel, Lebanon, maupun AS terkait pernyataan Qassem.
Israel tetap melanjutkan serangan di Lebanon selatan pada Kamis. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, menekankan pasukannya tidak akan menarik diri atau menghentikan operasi di wilayah tersebut, yang mereka masuki sejak Maret bersamaan dengan perang di Iran.
Komandan Pasukan Quds Garda Revolusi Iran, yang membentuk Hezbollah pada 1982, menegaskan bahwa "syarat minimum perlawanan" adalah penarikan Israel ke posisi sebelum perang dimulai. Menurut pernyataan resmi, Israel harus menghentikan serangannya, mengevakuasi wilayah yang diduduki, dan mundur di belakang perbatasan internasional.
Permusuhan antara Hezbollah dan Israel kembali menyala pada 2 Maret, ketika kelompok tersebut membuka tembakan untuk mendukung Teheran setelah serangan AS-Israel. Perang ini terus berlanjut meski beberapa gencatan senjata telah diumumkan dari Washington sejak April.(mrv)*
Sumber : Newsmaker.id