Wall Street Naik, Investor Memantau Negosiasi AS-Iran dan Data Inflasi
Pasar saham Amerika Serikat naik pada hari Senin (22 Juni), karena investor memantau perkembangan terbaru dalam negosiasi perang Iran dan menunggu rilis data inflasi, fokus utama Federal Reserve. S&P 500 naik sedikit, sementara Indeks Komposit Nasdaq bergerak relatif datar, dan Dow Jones Industrial Average naik lebih dari 200 poin. Pergerakan ini menunjukkan bahwa pasar masih berusaha mempertahankan optimisme, meskipun risiko geopolitik dan arah suku bunga AS tetap menjadi perhatian utama.
Sentimen pasar membaik setelah mediator dari Qatar dan Pakistan menyatakan bahwa pejabat AS dan Iran telah menyepakati peta jalan menuju kesepakatan akhir dalam waktu 60 hari. Berita ini juga membebani harga minyak, karena investor menilai risiko gangguan pasokan dari Timur Tengah mereda. Minyak mentah Brent naik pada perdagangan awal Asia, tetapi kemudian membalikkan penurunannya menjadi sekitar US$79 per barel. Sementara itu, minyak mentah WTI juga mengurangi kenaikan awalnya dan berada di sekitar US$76 per barel.
Di sektor saham, Micron Technology menjadi salah satu pendorong utama pasar, dengan sahamnya naik sekitar 5%. Kenaikan ini terjadi menjelang laporan keuangan triwulanan perusahaan, yang dijadwalkan akan dirilis pada hari Rabu setelah penutupan perdagangan. Minat investor terhadap saham chip tetap cukup kuat, terutama karena sektor semikonduktor tetap menjadi bagian kunci dari tren kecerdasan buatan (AI) yang telah mendorong reli pasar dalam beberapa bulan terakhir.
Namun, tidak semua saham teknologi bergerak positif. SpaceX turun lebih dari 5% dan kemungkinan akan mencatat penurunan hari ketiga berturut-turut. Tekanan pada saham-saham ini menunjukkan bahwa investor menjadi lebih selektif terhadap saham-saham yang sebelumnya naik tajam, terutama setelah reli pasca-IPO yang signifikan. Kondisi ini membuat pasar tetap waspada, meskipun indeks utama berhasil tetap berada di zona hijau.
Fokus utama investor minggu ini adalah pada rilis data Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE) bulan Mei, yang dijadwalkan akan dirilis pada hari Kamis. Data ini adalah indikator inflasi favorit The Fed dan dapat menentukan arah ekspektasi suku bunga di masa mendatang. Setelah pertemuan The Fed yang bernada hawkish pekan lalu, pasar mulai mengantisipasi kenaikan suku bunga yang lebih cepat, bahkan mungkin secepat Oktober jika tekanan inflasi kembali menguat.
Mengingat kondisi ini, Wall Street tetap berada dalam posisi menyeimbangkan antara optimisme geopolitik dan kekhawatiran inflasi. Jika data PCE menunjukkan tekanan harga mereda, reli saham dapat berlanjut. Namun, jika inflasi inti kembali naik, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dapat meningkat, berpotensi memberi tekanan pada saham-saham yang lebih berisiko, khususnya sektor teknologi, yang sensitif terhadap fluktuasi suku bunga. (arl)
Sumber: Newsmaker.id