Emas Pangkas Setelah Sempat Sentuh $5.419: Apa Pemicunya?
Harga emas yang pagi tadi melonjak dan sempat menyentuh $5.419/oz kini memangkas kenaikan ke sekitar $5.283/oz. Secara fundamental, ini tipikal pola “spike lalu cooling” ketika pasar awalnya panik (risk-off), lalu masuk fase menghitung ulang risiko dan mengambil untung.
Pemicu pertama adalah profit taking. Setelah lonjakan tajam dipicu eskalasi konflik Timur Tengah, banyak pelaku pasar mengunci keuntungan ketika sesi AS berjalan. Reuters juga mencatat emas sempat mencapai $5.418,50 sebelum kenaikan “dipangkas” (pares gains) seiring pasar mengkaji perkembangan terbaru.
Kedua, dolar dan yield AS kembali naik, yang biasanya jadi “rem” buat emas. Dolar menguat karena kembali diperlakukan sebagai safe haven di tengah perang dan shock energi.
Di saat yang sama, pasca rilis ISM manufaktur, pasar menangkap sinyal inflasi biaya yang panas: komponen Prices Paid melonjak ke 70,5 (tertinggi sejak 2022). Ini mendorong yield naik karena pasar menilai The Fed bisa lebih sulit cepat melonggarkan kebijakan jika tekanan harga bertahan. Yield yang naik = opportunity cost pegang emas makin tinggi.
Ketiga, ada faktor “inflation vs growth dilemma”. Lonjakan harga energi memang mendukung emas sebagai lindung nilai, tapi di waktu yang sama ia juga bisa mengangkat ekspektasi inflasi dan memperkuat dolar/yield—dua hal yang menahan emas. Jadi emas bisa naik karena fear, tapi kemudian terkoreksi saat pasar melihat USD/yield justru ikut mendapat aliran dana.
Keempat, pasar mulai memilah: emas tetap safe haven, tapi saat gejolak makin luas, sebagian dana juga memilih parkir ke cash/dolar (lebih likuid), terutama ketika volatilitas tinggi dan kebutuhan margin meningkat. Hasilnya: emas tetap “bid”, tapi tidak dibiarkan naik lurus—terjadi tarik-menarik antara demand safe haven vs tekanan dari dolar/yield dan aksi ambil untung.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id