Saham Eropa Tertekan Tajam di Awal Pekan
Bursa saham Eropa melemah pada Senin (23/3), dengan STOXX 50 dan STOXX 600 sama-sama turun sekitar 1,5%. Pelemahan ini memperpanjang penurunan pekan lalu yang hampir 3,8%, membawa kedua indeks kembali ke level terendah sejak September dan November tahun lalu. Sentimen investor tetap tertekan oleh eskalasi konflik di Timur Tengah yang terus mengangkat harga minyak.
Tekanan risk-off meningkat setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan ultimatum 48 jam kepada Iran untuk “membuka penuh” Selat Hormuz. Di sisi lain, Ketua Parlemen Iran memperingatkan bahwa entitas yang membeli obligasi pemerintah AS dapat dianggap sebagai “target sah”, memperluas dimensi risiko dari geopolitik ke ranah finansial dan memperbesar kekhawatiran pasar.
Seluruh sektor bergerak di zona merah, dengan keuangan dan industri memimpin pelemahan. Saham-saham berkapitalisasi besar juga terkoreksi, termasuk ASML Holding (-1%), HSBC Holdings (-0,8%), dan LVMH (-0,4%), menandakan tekanan terjadi secara luas di pasar.
Di sisi korporasi, Poste Italiane turun lebih dari 5% dan menjadi pemberat terbesar di STOXX 600 setelah mengumumkan penawaran senilai €10,8 miliar untuk Telecom Italia. Namun saham Telecom Italia justru melonjak 5,4% menyambut kabar tersebut.
Inti Newsmaker: pelemahan saham Eropa di awal pekan menegaskan pasar makin sensitif terhadap kombinasi “oil shock + geopolitik”. Selama tensi Hormuz belum mereda dan minyak tetap tinggi, investor cenderung defensif—dengan sektor siklikal seperti industri dan finansial paling rentan tertekan.(yds)
Sumber: Newsmaker.id