Minyak Stabil Pagi Ini, Hormuz Tetap Panas
Harga minyak bergerak stabil setelah menguat dalam dua hari terakhir, seiring pasar masih mencermati konflik antara Amerika Serikat dan Iran di Timur Tengah. Brent diperdagangkan di bawah US$89 per barel setelah naik hampir 6% dalam dua sesi sebelumnya, sementara WTI berada di sekitar US$83 per barel.
Ketegangan masih tinggi setelah AS melancarkan serangan hari kesepuluh berturut-turut terhadap Iran. Presiden Donald Trump sebelumnya menegaskan bahwa Teheran akan “membayar” atas kematian tentara Amerika, sementara Iran membalas dengan serangan ke Kuwait.
Risiko baru juga datang dari kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran. Houthi mengancam akan memblokade lalu lintas maritim Arab Saudi di Laut Merah, jalur penting bagi ekspor jutaan barel minyak Saudi melalui pipa lintas negara yang menghindari Selat Hormuz.
Meski begitu, pasar masih melihat adanya peluang diplomasi. Iran menyebut mediator telah menghubungi Teheran dengan proposal untuk meredakan konflik, sementara muncul laporan adanya usulan penghentian serangan selama 10 hari. Kabar ini membuat harga minyak bergerak naik-turun mengikuti peluang eskalasi dan deeskalasi.
Dampaknya, harga minyak masih berpotensi sangat volatil. Jika serangan terhadap kapal di Selat Hormuz dan ancaman blokade Laut Merah berlanjut, Brent bisa kembali terdorong naik. Namun, jika proposal diplomasi berkembang positif, kenaikan minyak berpeluang tertahan dalam jangka pendek.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id