Minyak Terkoreksi, Risiko Perang Belum Reda
Harga minyak melemah lebih dari 1% pada perdagangan Selasa (21/7), saat pasar menimbang peluang mediasi antara Amerika Serikat dan Iran. Brent turun 1,4% ke sekitar US$88,01 per barel, sementara WTI kontrak terdekat melemah 1,1% ke US$82,29 per barel.
Tekanan terhadap minyak muncul setelah adanya laporan bahwa mediator mengusulkan gencatan senjata selama 10 hari. Usulan tersebut diharapkan dapat membuka jalan untuk menyelamatkan kesepakatan sementara AS-Iran yang sebelumnya ditandatangani pada Juni.
Namun, risiko geopolitik belum sepenuhnya mereda. Amerika Serikat masih melanjutkan serangan terhadap Iran, sementara Iran membalas dengan menyerang aset militer AS di kawasan Timur Tengah. Presiden Donald Trump juga telah memperingatkan akan ada balasan setelah sejumlah tentara AS tewas.
Ketegangan di jalur energi global juga tetap tinggi. Sebuah kapal tanker di Selat Hormuz dilaporkan terkena proyektil tak dikenal, sehingga awak kapal harus meninggalkan kapal dan naik ke sekoci. Arus kapal melalui selat tersebut juga terus menurun setelah serangan terbaru dari AS dan Iran.
Risiko tambahan datang dari kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran. Houthi mengancam akan memberlakukan blokade laut terhadap Arab Saudi, yang dapat membuka front baru dalam konflik dan mengancam pasokan energi serta perdagangan global di luar kawasan Teluk.
Dampaknya ke market, harga minyak masih berpotensi bergerak volatil. Harapan gencatan senjata dapat menahan kenaikan harga dalam jangka pendek, tetapi serangan di Selat Hormuz dan ancaman blokade Saudi masih menjadi risiko besar. Jika gangguan pasokan memburuk, Brent berpeluang kembali menguat, sementara inflasi energi dapat menekan saham dan menopang dolar AS. (arl)
Sumber : Newsmaker.id