Minyak Naik, Trump Terus Tekan Iran
Harga minyak bergerak menguat pada perdagangan Rabu (22/07) setelah Presiden AS Donald Trump meredam peluang pembicaraan dalam waktu dekat dengan Iran. Pasar kembali mencermati risiko gangguan pasokan global, terutama setelah konflik meluas dari Timur Tengah hingga kawasan Laut Hitam.
Brent naik mendekati US$92 per barel dan mencatat penguatan untuk sesi keempat berturut-turut. Sementara itu, West Texas Intermediate atau WTI bergerak di sekitar US$85 per barel. Brent kontrak September naik 0,5% ke US$91,51, sedangkan WTI kontrak September menguat 0,4% ke US$84,65 per barel.
Trump mengatakan AS tidak tertarik untuk segera bertemu dengan Iran, meski menyebut Teheran sangat ingin membuka pembicaraan. Ia juga kembali mengancam akan menyerang Pickaxe Mountain, yang diduga sebagai lokasi nuklir Iran, serta berjanji merespons jika Houthi mengganggu jalur pelayaran di Laut Merah.
Militer AS melancarkan serangan untuk hari ke-11 berturut-turut terhadap Iran. Serangan ini disebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran komersial di Selat Hormuz, setelah sejumlah tanker dilaporkan diserang dalam beberapa hari terakhir di dekat Oman.
Risiko pasokan juga datang dari luar Timur Tengah. Pasar ikut mencermati serangkaian serangan terhadap terminal Caspian Pipeline Consortium di pesisir Laut Hitam Rusia, jalur penting yang mengirim sebagian besar minyak mentah Kazakhstan ke pasar global.
Dampaknya ke market, harga minyak masih berpotensi bertahan tinggi selama ketegangan AS-Iran, ancaman Houthi di Laut Merah, dan risiko Selat Hormuz belum mereda. Jika Laut Merah benar-benar tertutup atau arus kapal Saudi semakin terganggu, Brent berpeluang menembus US$100. Namun, jika muncul sinyal negosiasi baru, kenaikan minyak bisa tertahan atau terkoreksi.(asd)*
Source: Newsmaker.id