Hormuz Memanas, Minyak Dekati US$80
Harga minyak kembali menguat setelah Amerika Serikat melancarkan gelombang serangan baru terhadap Iran. Ketegangan semakin meningkat karena kedua pihak masih berbeda klaim soal status Selat Hormuz, jalur penting bagi perdagangan energi global.
Brent bergerak mendekati level US$80 per barel setelah AS menyerang puluhan target Iran pada Minggu. Washington menyebut serangan itu bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam mengganggu pelayaran internasional melalui Selat Hormuz. Iran kemudian menyatakan jalur tersebut ditutup sampai pemberitahuan lebih lanjut, meski angkatan laut Barat menegaskan Hormuz masih terbuka.
Presiden Donald Trump juga mengatakan kepada Fox News bahwa Amerika Serikat kemungkinan akan mengambil alih Hormuz, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. Ia juga menyebut AS ingin mendapat “penggantian” karena menjaga jalur pelayaran tersebut. Pernyataan ini membuat pasar semakin waspada terhadap potensi eskalasi yang lebih luas.
Di sisi lain, Iran menyatakan komunikasi untuk menurunkan ketegangan masih berjalan. Namun, Teheran mengakui bahwa kesepakatan damai sementara dengan AS telah masuk ke fase krisis. Iran juga melancarkan serangan terhadap sekutu Amerika di Timur Tengah, sementara Kuwait melaporkan salah satu fasilitas pengeboran lepas pantainya terkena serangan dan mengalami kerusakan.
Ketidakpastian baru di Selat Hormuz kembali memasukkan premi perang ke dalam harga minyak. Jalur ini menjadi salah satu titik paling penting bagi pasokan energi dunia. Jika gangguan berlangsung lama, upaya global untuk membangun kembali stok minyak bisa terganggu, seperti yang sebelumnya diperingatkan oleh International Energy Agency.
Lalu lintas kapal yang terlihat melalui Hormuz juga dilaporkan rendah sepanjang Minggu hingga Senin pagi. Meski begitu, belum jelas berapa banyak kapal yang tetap melintas tanpa menyalakan sinyal satelit. Joint Maritime Information Center menyebut jalur pelayaran selatan yang dikoordinasikan Oman masih tersedia.
Dampaknya ke market, harga minyak masih berpeluang bertahan tinggi selama konflik belum mereda. Jika serangan meluas ke fasilitas energi utama di kawasan Teluk, analis memperkirakan harga minyak bahkan bisa bergerak menuju US$100 per barel. Kenaikan minyak juga dapat menambah tekanan inflasi, memperkuat ekspektasi suku bunga tinggi, dan menekan aset berisiko di pasar global. (arl)
Sumber: Newsmaker.id