Saham Chip Tumbang, Nasdaq Ikut Tertekan
Bursa saham AS bergerak beragam pada perdagangan Senin (13/7), dengan S&P 500 melemah karena saham-saham semikonduktor ikut tertekan mengikuti penurunan tajam di pasar global. Investor juga masih mencermati perkembangan terbaru di Timur Tengah dan menunggu rangkaian laporan keuangan perusahaan pekan ini.
Indeks S&P 500 turun 0,3%, sementara Nasdaq Composite melemah lebih dalam sebesar 1%. Tekanan utama datang dari saham teknologi dan chip. Di sisi lain, Dow Jones Industrial Average masih mampu menguat 164 poin atau sekitar 0,3%.
Saham-saham semikonduktor menjadi pemberat utama pasar. Saham SK Hynix yang tercatat di AS turun 7% setelah sebelumnya melonjak 13% saat debut di Nasdaq pada Jumat. Micron Technology melemah 6%, Sandisk merosot 10%, Seagate Technology turun 6%, sementara Advanced Micro Devices dan Intel masing-masing melemah sekitar 4%.
Sentimen pasar juga dibebani oleh ketegangan baru antara Amerika Serikat dan Iran. Kedua negara kembali saling melancarkan serangan udara pada akhir pekan, dengan Iran menargetkan fasilitas AS di sejumlah negara Teluk dan menyatakan Selat Hormuz ditutup. Namun, Presiden Donald Trump membantah klaim tersebut dan mengatakan jalur pelayaran penting itu tetap terbuka untuk lalu lintas komersial.
Trump sebelumnya memerintahkan serangan udara terhadap Iran setelah adanya serangan terhadap kapal komersial yang melintas di Selat Hormuz. Ketegangan ini mendorong harga minyak naik, meski kenaikannya mulai sedikit mereda dari level tertinggi harian.
Harga WTI naik sekitar 3% ke US$73,68 per barel setelah sempat menyentuh US$75,08. Sementara itu, Brent juga menguat sekitar 3% ke US$78,48 per barel setelah sebelumnya sempat naik hingga US$79,80. Kenaikan minyak membuat pasar khawatir terhadap risiko inflasi baru, yang bisa memengaruhi arah suku bunga The Fed.
Dampaknya ke market, saham teknologi dan aset berisiko masih berpotensi tertekan jika konflik Timur Tengah terus memanas dan harga minyak bertahan tinggi. Namun, sektor energi bisa tetap mendapat dukungan dari kenaikan harga minyak. Untuk Wall Street, fokus berikutnya akan tertuju pada laporan keuangan perusahaan dan sinyal apakah tekanan di saham chip hanya aksi ambil untung atau awal koreksi yang lebih dalam. (arl)
Sumber : Newsmaker.id