Minyak Turun Tajam Meski Kapal Diserang di Hormuz
Harga minyak kembali melemah tajam pada perdagangan Jumat (26/6) setelah lebih banyak kapal tanker keluar dari Selat Hormuz. Pergerakan tersebut meredakan kekhawatiran pasokan, meskipun sebuah kapal dilaporkan mendapat serangan di Teluk Oman.
Harga minyak Brent untuk kontrak Agustus turun 4% ke level US$72,02 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate atau WTI kontrak Agustus melemah 3,6% ke level US$69,34 per barel.
Penurunan harga terjadi ketika investor terus memantau perkembangan di Timur Tengah. Pasar menilai bahwa arus kapal yang tetap berjalan melalui Selat Hormuz dapat mengurangi risiko gangguan rantai pasok energi global, terutama setelah adanya upaya diplomatik antara Amerika Serikat dan Iran.
Namun, risiko geopolitik belum sepenuhnya mereda. Seorang pejabat Amerika Serikat menyebut Iran berada di balik serangan terhadap kapal kargo dekat pesisir Oman di kawasan Selat Hormuz. Kapal tersebut berlayar dengan bendera Singapura. United Kingdom Maritime Trade Operations menyatakan tidak ada korban jiwa dan tidak ada kerusakan lingkungan dari insiden tersebut.
Presiden Amerika Serikat Donald Trump kemudian mengatakan Iran telah melanggar gencatan senjata melalui serangan drone di Selat Hormuz. Trump menyebut kapal tersebut masih dapat melanjutkan perjalanan, sementara tiga drone lain berhasil dijatuhkan.
Organisasi Maritim Internasional atau IMO juga memutuskan untuk sementara menghentikan pelaksanaan rencana evakuasi kapal. Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez mengatakan langkah tersebut diambil untuk memastikan kembali jaminan keselamatan bagi kapal-kapal yang masuk dalam daftar evakuasi dan kapal lain di kawasan tersebut.
Meski ada serangan baru, pasar minyak lebih fokus pada membaiknya arus pelayaran. Jika kapal tanker tetap dapat melewati Selat Hormuz, risiko pasokan energi dari Timur Tengah dinilai lebih terkendali. Kondisi ini menekan premi risiko geopolitik yang sebelumnya sempat mengangkat harga minyak.
Di sisi diplomatik, ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran masih berlanjut. Kedua negara berbeda pandangan terkait penggunaan dana Iran yang dibekukan dalam memorandum kesepahaman. Ketua parlemen Iran menolak klaim pemerintahan Trump bahwa aset yang dicairkan akan digunakan untuk membeli produk pertanian Amerika Serikat.
Pejabat Amerika Serikat tetap menyatakan bahwa dana yang dilepas akan berada di bawah persetujuan Washington dan digunakan untuk membeli produk pertanian Amerika guna membantu kebutuhan pangan rakyat Iran. Perbedaan tafsir ini menunjukkan bahwa kesepakatan sementara antara kedua negara masih rapuh.
Analis menilai pasar mungkin terlalu optimistis terhadap stabilitas kawasan. Scott Nations dari Nations Indexes mengatakan masih banyak pertanyaan mengenai isi sebenarnya dari kesepakatan tersebut. Menurutnya, Iran masih memiliki pengaruh besar terhadap ekonomi dunia jika memilih untuk menutup atau mengganggu jalur Selat Hormuz.
Di luar faktor geopolitik, perhatian pasar juga tertuju pada dinamika OPEC. Kartel minyak tersebut menghadapi risiko keluarnya produsen besar lain setelah Uni Emirat Arab meninggalkan kelompok tersebut pada Mei. Irak dilaporkan meminta kuota produksi yang lebih tinggi dan dapat mempertimbangkan keluar jika tuntutannya tidak dipenuhi.
Secara keseluruhan, pelemahan harga minyak menunjukkan bahwa pasar saat ini lebih percaya pada pemulihan arus pasokan dibandingkan risiko konflik jangka pendek. Namun, selama Selat Hormuz masih menjadi titik rawan dan hubungan AS-Iran belum benar-benar stabil, harga minyak tetap berisiko bergerak volatil dalam beberapa sesi mendatang.(yds)
Sumber: Newsmaker.id