Saham Asia Melemah, Teknologi Jadi Beban Utama
Bursa saham Asia melemah pada awal perdagangan, dipimpin oleh penurunan saham-saham teknologi dan chip yang kembali melepas sebagian kenaikan tajam pada sesi sebelumnya. Pergerakan ini terjadi setelah Wall Street ditutup bergejolak, dengan tekanan pada saham teknologi besar mengimbangi optimisme dari laporan kuat Micron Technology.
Indeks saham Asia turun sekitar 1,1%, sementara Kospi Korea Selatan yang banyak mempekerjakan saham teknologi dan jlok lebih dari 3%. Kontrak berjangka saham Amerika Serikat bergerak relatif datar. Tekanan di Asia mencerminkan kehati-hatian investor setelah reli besar saham chip pada Kamis mulai kehilangan tenaga.
Di Wall Street, S&P 500 ditutup hampir datar setelah gagal mempertahankan reli awal yang dipicu oleh prospek penjualan Micron. Apple menjadi pemberat utama setelah sahamnya turun 6,1% karena perusahaan menaikkan harga Mac, iPad, dan perangkat rumah. Kenaikan harga tersebut memicu kekhawatiran bahwa biaya chip dan komponen teknologi dapat menekan margin perusahaan besar.
Desakan agar Apple ikut menarik kelompok saham Magnificent Seven. Kondisi ini muncul bahwa pasar mulai berkomentar apakah saham-saham teknologi raksasa yang selama dua tahun terakhir menjadi motor utama reli masih mampu memenuhi ekspektasi tinggi investor. Kekhawatiran terhadap besarnya belanja AI juga membuat pergerakan saham chip menjadi sangat volatil sepanjang pekan ini.
Meski Micron mencatat laporan dan prospek yang kuat, optimisme tersebut tidak sepenuhnya berlanjut ke perdagangan Asia. Saham SK Hynix, Samsung Electronics, dan Kioxia Holdings menjadi pemberat indeks utama regional. Padahal, sehari sebelumnya sektor chip sempat mendapat dorongan besar setelah Micron menunjukkan permintaan yang kuat untuk memori dan infrastruktur kecerdasan buatan.
Selain teknologi, pasar juga masih mencermati harga minyak. Brent sempat naik pada Kamis setelah adanya serangan proyektil terhadap kapal di Selat Hormuz, yang kembali memunculkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran penting tersebut. Namun, harga minyak bergerak sedikit lebih rendah pada awal perdagangan Asia, seiring investor menimbang risiko geopolitik dengan potensi normalisasi arus pasokan dari Teluk Persia.
Dari sisi makroekonomi, data inflasi Amerika Serikat memberi sedikit ruang lega bagi pasar. Indeks harga Personal Consumption Expenditures atau PCE naik 0,4% pada Mei, lebih rendah dari estimasi ekonom sebesar 0,5%. Namun secara tahunan, inflasi tetap naik menjadi 4,1%, masih jauh di atas target Federal Reserve sebesar 2%.
Data lain menunjukkan perekonomian AS masih cukup kuat. Produk domestik bruto kuartal I direvisi naik menjadi 2,1% secara tahunan, lebih cepat dari estimasi sebelumnya. Sementara itu, pasar swap suku bunga memangkas sedikit taruhan terhadap kenaikan suku bunga The Fed tahun ini, dengan peluang kenaikan bulan depan turun menjadi sekitar satu banding tiga.
Presiden The Fed New York, John Williams, mengatakan suku bunga saat ini berada pada posisi yang tepat untuk membawa inflasi kembali menuju target bank sentral. Pernyataan ini membantu meredakan sebagian kekhawatiran pasar, meskipun tekanan inflasi masih belum sepenuhnya hilang.
Di pasar komoditas, emas bergerak stabil setelah kembali bertahan di atas US$4.000 per troy ounce pada sesi sebelumnya. Stabilnya emas terjadi karena trader memangkas sebagian ekspektasi kenaikan suku bunga, meskipun dolar dan imbal hasil masih tetap menjadi faktor penting yang membatasi ruang kenaikan logam mulia.
Secara keseluruhan, pasar Asia masih berada dalam mode hati-hati. Investor melihat data inflasi AS yang lebih rendah dari perkiraan sebagai sinyal positif, namun tekanan pada saham teknologi besar, volatilitas chip, dan risiko baru di Selat Hormuz membuat sentimen pasar belum pulih sepenuhnya.(asd)
Sumber : Newsmaker.id