Minyak Berbalik Naik Usai Serangan di Hormuz
Harga minyak berbalik menguat pada perdagangan Kamis (25/6) setelah sebelumnya sempat menghapus kenaikan pascaperang. Kenaikan terjadi setelah muncul laporan serangan terhadap kapal kargo di dekat Selat Hormuz, yang kembali memicu kekhawatiran bahwa ketegangan di Timur Tengah belum sepenuhnya mereda.
Pada awal perdagangan, harga minyak sempat melemah karena investor memperkirakan pasokan global akan membaik. Optimisme tersebut muncul setelah sejumlah kapal tanker yang tertahan berbulan-bulan di Teluk Persia mulai keluar melalui Selat Hormuz. Kondisi ini membuat pasar sempat menilai premi risiko perang pada harga minyak mulai memudar.
Menurut data perusahaan pelacak perdagangan Kpler, lebih dari 20 kapal tanker yang membawa sekitar 35 juta barel minyak mentah telah melewati Selat Hormuz sejak Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan untuk membuka kembali jalur pelayaran utama tersebut. Kapal-kapal non-Iran itu sebelumnya tertahan di Teluk Persia selama lebih dari tiga bulan setelah Teheran secara efektif menutup jalur tersebut pada awal konflik. Sebagian besar kapal diperkirakan tiba di tujuan Asia pada awal Agustus.
Citi menilai tekanan terburuk bagi strategi perdagangan komoditas berbasis kurva kemungkinan sudah berlalu. Strategi tersebut sebelumnya terpukul selama perang AS-Iran karena lonjakan harga minyak kontrak jangka pendek merugikan posisi yang menjual kontrak dekat dan membeli kontrak berjangka lebih panjang. Bank tersebut menjadikan de-eskalasi besar sebagai skenario dasar dan memperkirakan Brent dapat turun ke kisaran US$60 hingga US$65 per barel dalam enam hingga dua belas bulan ke depan, seiring normalisasi arus Selat Hormuz.
Namun, sentimen pasar berubah cepat setelah Iran dilaporkan menyerang sebuah kapal kargo di dekat wilayah Oman. Seorang pejabat AS menyebut Iran berada di balik serangan tersebut. Insiden ini membuat kekhawatiran gangguan pasokan kembali meningkat, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan minyak global.
Harga West Texas Intermediate atau WTI berbalik naik lebih dari 2% dan ditutup di level US$71,92 per barel. Sementara itu, Brent internasional menguat 2,1% ke level US$75,26 per barel. Kenaikan ini menunjukkan bahwa meskipun pasokan mulai pulih, pasar minyak masih sangat sensitif terhadap risiko keamanan di jalur pelayaran Timur Tengah.
Di sisi lain, Angkatan Laut Korps Garda Revolusi Islam Iran memperingatkan bahwa keselamatan pelayaran melalui Selat Hormuz hanya akan dijamin jika kapal mengikuti rute yang ditentukan oleh Teheran. Iran juga memperingatkan bahwa kapal yang melanggar instruksi transit dapat menghadapi tindakan. Pernyataan ini menegaskan bahwa risiko terhadap jalur pelayaran utama tersebut masih belum sepenuhnya hilang.
Dengan kondisi ini, arah harga minyak masih berpotensi bergerak volatil. Jika arus kapal terus normal dan ketegangan tidak meningkat, harga minyak berpeluang kembali melemah menuju level pra-perang. Namun, jika serangan baru kembali terjadi atau Iran memperketat kendali atas jalur Hormuz, premi risiko dapat kembali masuk ke harga minyak dan mendorong Brent maupun WTI bergerak lebih tinggi.(yds)
Sumber: Newsmaker.id