Emas Masih Berada di Jalur Bearish
Harga emas masih bergerak dengan bias bearish pada perdagangan Kamis, bertahan mendekati level terendah sejak November 2025. Meski dolar Amerika Serikat sempat melemah tipis, emas belum mampu memanfaatkan momentum tersebut untuk rebound kuat. Tekanan penjualan masih terlihat karena pasar tetap berhati-hati menjelang rilis data inflasi Personal Consumption Expenditures atau PCE Amerika Serikat.
Secara fundamental, ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga Federal Reserve masih menjadi beban utama bagi emas. Berdasarkan pelaku CME FedWatch, pasar masih memperkirakan peluang lebih dari 80% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun. Kondisi ini membuat emas kurang menarik karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil, sementara aset berbasis dolar dan obligasi pemerintah AS masih menawarkan daya tarik dari sisi hasil.
Di sisi lain, peluang kenaikan suku bunga memang sempat sedikit berkurang karena inflasi mulai mereda setelah harga minyak turun. Namun, penurunan ekspektasi tersebut belum cukup untuk mengangkat emas secara signifikan. Dolar AS juga masih mendapat dukungan dari sentimen safe haven setelah aksi jual saham teknologi global pada awal pekan membuat investor memilih aset yang lebih aman.
Secara teknikal, mencapai harga emas menembus dan bertahan di bawah level psikologis US$4.000 memperkuat tekanan bearish dalam jangka pendek. Selama harga masih sulit kembali stabil di atas area tersebut, setiap upaya rebound berpotensi dianggap sebagai peluang penjualan oleh pasar. Area support berikutnya berada di sekitar US$3.950 hingga US$3.900, sementara resistance awal berada di area US$4.000 hingga US$4.050.
Fokus utama pasar kini muncul pada data PCE AS. Jika data inflasi lebih panas dari perkiraan, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dapat kembali menguat dan emas berisiko melanjutkan pelemahan. Namun, jika PCE menunjukkan inflasi mulai melandai, emas berpeluang melakukan pemulihan teknikal, meskipun tren utamanya masih rawan selama dolar AS tetap kuat dan pasar belum kembali agresif masuk ke aset logam mulia.(Asd)*
Sumber : Newsmaker.id