Emas Jatuh ke Terendah 7 Bulan Hingga di Bawah $4.000
Harga emas turun tajam pada perdagangan Rabu (24/6) dan sempat menembus ke bawah level psikologis $4.000 per troy ounce. Spot gold melemah sekitar 3% ke $3.9851,21 per ounce setelah menyentuh level terendah sejak November 2025. Harga emas berjangka AS turun 3,4% dan ditutup pada $4.008,80, menunjukkan tekanan jual terjadi cukup kuat di pasar logam mulia.
Tekanan utama datang dari penguatan dolar Amerika Serikat. Ketika dolar menguat, emas menjadi lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain. Kondisi ini membuat permintaan global terhadap emas melemah. Di saat yang sama, dolar AS juga berada dekat level tertinggi dalam 13 bulan karena pasar semakin yakin Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga tahun ini.
Ekspektasi kenaikan suku bunga menjadi beban besar bagi emas. Setelah pertemuan The Fed terakhir yang bernada hawkish, pelaku pasar mulai memperkirakan peluang kenaikan suku bunga semakin besar, bahkan bisa terjadi secepat September. Suku bunga yang lebih tinggi membuat emas kurang menarik karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil, berbeda dengan obligasi pemerintah yang bisa memberi bunga.
Analis pasar logam Tai Wong menilai kombinasi dolar yang kuat, ekspektasi kenaikan suku bunga, dan perubahan arah inflasi membuat tekanan terhadap logam mulia semakin berat. Menurutnya, emas masih memiliki area support di bawah US$3.900 dan pembelian bank sentral masih menjadi penopang, sehingga peluang kejatuhan yang lebih dalam secara ekstrem tidak terlalu besar. Namun, pasar kemungkinan akan menghadapi periode konsolidasi panjang karena minat terhadap emas sedang menurun.
Koreksi emas kali ini juga menjadi tanda bahwa reli besar sebelumnya mulai kehilangan tenaga. Emas sempat mencetak rekor tertinggi di US$5.594,82 pada akhir Januari, tetapi kini telah turun lebih dari US$1.600 per ounce dari puncaknya. Beberapa lembaga besar mulai menurunkan proyeksi harga emas, termasuk ING yang kini memperkirakan rata-rata harga emas berada di US$4.300 pada kuartal III dan US$4.600 pada kuartal IV 2026, lebih rendah dari proyeksi sebelumnya.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada data inflasi Personal Consumption Expenditures atau PCE Amerika Serikat yang menjadi indikator favorit The Fed. Jika data tersebut menunjukkan inflasi masih kuat, peluang kenaikan suku bunga bisa semakin besar dan emas berisiko kembali tertekan ke area US$3.900. Namun, jika inflasi mulai mereda, emas berpeluang menahan penurunan dan mencoba rebound teknikal dari area rendah saat ini.(yds)
Sumber: Newsmaker.id