Emas Tembus Bawah US$4.000
Harga emas turun di bawah US$4.000 per troy ounce untuk pertama kalinya sejak November, setelah penguatan dolar Amerika Serikat dan prospek suku bunga yang lebih tinggi menekan daya tarik logam mulia. Harga emas sempat turun hingga 2,9% ke US$3.999,90 per ounce, memperpanjang pelemahan untuk sesi kedua berturut-turut.
Penurunan ini menjadi sinyal penting bagi pasar, karena emas sebelumnya mencatat reli besar selama tiga tahun terakhir. Harga logam mulia sempat naik lebih dari dua kali lipat, didukung oleh pembelian bank sentral, minat investor ritel, serta aliran dana dari manajer investasi. Namun, reli tersebut mulai kehilangan momentum setelah emas mencetak rekor tertinggi di dekat US$5.600 per ounce pada akhir Januari.
Tekanan semakin besar setelah harga emas turun lebih dari 20% dari puncak terakhirnya. Secara teknikal, penurunan lebih dari 20% sering dianggap sebagai tanda masuknya pasar ke fase bearish. Artinya, emas tidak lagi hanya mengalami koreksi biasa, tetapi mulai menghadapi perubahan arah sentimen yang lebih besar.
Faktor utama yang membebani emas adalah perubahan ekspektasi terhadap suku bunga Amerika Serikat. Perang AS-Iran sempat mendorong harga energi naik tajam dan menimbulkan kekhawatiran inflasi baru. Ketika inflasi diperkirakan tetap tinggi, pasar melihat peluang The Fed untuk menaikkan suku bunga semakin besar. Kondisi ini membuat emas kurang menarik dibandingkan aset berbunga seperti obligasi pemerintah AS.
Nada hawkish dari Ketua The Fed Kevin Warsh juga memperkuat tekanan terhadap emas. Warsh mengejutkan pasar dengan menegaskan komitmen kuat terhadap stabilitas harga dalam rapat kebijakan pertamanya. Pesan ini membuat investor menilai The Fed tidak akan mudah melonggarkan kebijakan, sehingga dolar kembali menguat dan real yield obligasi AS naik. Bagi emas, kombinasi dolar kuat dan yield tinggi menjadi tekanan ganda.
Beberapa bank besar mulai memangkas proyeksi harga emas. Goldman Sachs menurunkan target akhir tahun sebesar US$500 menjadi US$4.900 per ounce, sementara Deutsche Bank memangkas proyeksi kuartal IV sebesar 17%. Arus keluar dari ETF emas juga menunjukkan dukungan investor mulai melemah. Meski begitu, satu faktor yang masih menopang emas adalah permintaan bank sentral, yang tetap kuat dan diperkirakan berlanjut dalam beberapa waktu ke depan.(gn)*
Sumber: Newsmaker.id