Emas dan Silver Tumbang, Tekanan The Fed Kembali Menghantui Pasar
Harga emas dan silver melemah tajam pada perdagangan Selasa (23/6), setelah aksi jual saham teknologi global ikut menekan pasar logam mulia. Emas berjangka AS turun 1,3% dan ditutup di $4.149,40 per troy ounce, sementara silver anjlok lebih dari 5% dan berakhir di $62,07 per troy ounce. Pelemahan ini menunjukkan bahwa tekanan tidak hanya terjadi di pasar saham, tetapi juga menyebar ke aset logam yang sebelumnya dianggap sebagai tempat berlindung saat ketidakpastian meningkat.
Tekanan terhadap emas semakin besar karena pasar mulai kembali memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga Federal Reserve sebelum akhir tahun. Pertemuan The Fed pekan lalu yang dipimpin Ketua baru Kevin Warsh dibaca pasar sebagai sinyal hawkish. Ekspektasi kenaikan suku bunga membuat emas kurang menarik karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil, sementara aset seperti obligasi pemerintah AS menjadi lebih kompetitif ketika yield naik.
Dolar AS yang menguat juga menjadi faktor penekan utama. Reuters mencatat indeks dolar naik ke level tertinggi dalam 13 bulan, didukung ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed dan permintaan safe haven di tengah tekanan pasar global. Dolar yang lebih kuat membuat emas lebih mahal bagi pembeli dengan mata uang lain, sehingga menekan permintaan global terhadap logam mulia.
Pandangan Wall Street terhadap emas juga mulai berubah. Bank of America menilai target emas US$6.000 per troy ounce semakin sulit tercapai dalam waktu dekat karena latar inflasi masih tidak nyaman dan berpotensi mendorong kebijakan moneter yang lebih ketat. Deutsche Bank juga memangkas proyeksi emas, dengan target baru US$4.300 untuk kuartal III dan US$4.800 untuk kuartal IV. Dalam skenario yang lebih buruk, jika The Fed menaikkan suku bunga tiga hingga empat kali, Deutsche Bank melihat emas bisa turun hingga sekitar US$3.800 per troy ounce.
Kondisi ini membuat reputasi emas sebagai aset safe haven kembali diuji. Sejak perang AS-Iran pecah pada akhir Februari, emas tidak selalu bergerak naik saat risiko meningkat. Ketika perang mendorong harga minyak naik, pasar justru mencemaskan inflasi yang lebih tinggi dan kebijakan The Fed yang lebih ketat. Akibatnya, emas bisa ikut tertekan meskipun situasi geopolitik belum sepenuhnya stabil.
Ke depan, fokus investor akan tertuju pada data inflasi Personal Consumption Expenditures atau PCE Amerika Serikat. Data ini menjadi indikator inflasi favorit The Fed dan akan menjadi penentu arah berikutnya bagi emas, silver, dolar AS, dan yield obligasi. Jika PCE kembali panas, tekanan terhadap emas dan silver berpotensi berlanjut. Namun, jika inflasi mulai mereda, pasar logam mulia punya peluang untuk menahan koreksi dan mencoba rebound teknikal.(yds)
Sumber: Newsmaker.id