Dolar AS Tembus Puncak 13 Bulan
Dolar AS melanjutkan penguatannya pada perdagangan Rabu (24/6) dan mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2025. Penguatan ini terjadi karena investor semakin yakin bahwa Federal Reserve masih berpeluang menaikkan suku bunga, sementara aksi jual besar di sektor teknologi membuat pelaku pasar mencari perlindungan pada aset safe haven seperti dolar AS dan obligasi pemerintah.
Indeks dolar AS naik ke sekitar 101,42 hingga 101,69, mencerminkan kuatnya permintaan terhadap greenback di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar. Tekanan di sektor teknologi dan semikonduktor global membuat investor mengurangi posisi pada aset berisiko. Dana yang keluar dari saham AI dan megacap teknologi kemudian mengalir ke aset yang dianggap lebih aman, terutama dolar AS.
Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed menjadi pendorong utama reli dolar. Pejabat The Fed semakin menunjukkan nada hawkish karena ekonomi AS masih terlihat kuat dan inflasi belum sepenuhnya terkendali. Pasar kini memperhitungkan peluang kenaikan suku bunga yang lebih besar, bahkan kemungkinan kenaikan dapat terjadi secepat Juli jika data ekonomi mendukung.
Penguatan dolar memberi tekanan besar pada mata uang utama lainnya. Euro melemah ke level terendah dalam lebih dari satu tahun, karena pasar melihat perbedaan arah kebijakan antara The Fed dan European Central Bank semakin melebar. Di Eropa, pembuat kebijakan masih harus menghadapi sisa tekanan inflasi akibat konflik Timur Tengah, tetapi pada saat yang sama indikator ekonomi mulai menunjukkan perlambatan yang lebih jelas.
Pound sterling sempat menemukan pijakan teknikal setelah pejabat Bank of England, Alan Taylor, memberi sinyal bahwa mempertahankan suku bunga lebih lama masih menjadi pilihan tepat. Namun, aset Inggris tetap dibayangi ekonomi domestik yang lemah dan ketidakpastian politik setelah pengunduran diri Perdana Menteri Keir Starmer. Sementara itu, dolar Australia cenderung datar di sekitar US$0,6905 meski inflasi inti Australia naik lebih tinggi dari perkiraan.
Di Asia, yuan dan yen masih berada di bawah tekanan. Yuan melemah setelah People’s Bank of China menetapkan kurs tengah yang lebih lemah untuk hari keempat berturut-turut. Yen Jepang juga bergerak dekat level terendah multi-dekade, dengan USD/JPY berada di sekitar 161,70. Meski beberapa anggota Bank of Japan mendukung kenaikan suku bunga lanjutan, pasar masih lebih fokus pada kekuatan dolar dan selisih suku bunga yang masih lebar antara Jepang dan Amerika Serikat. (arl)
Sumber : Newsmaker.id