Minyak Jatuh Tiga Sesi Beruntun
Harga minyak kembali melemah tajam pada perdagangan Rabu (24/6), memperpanjang penurunan untuk sesi ketiga berturut-turut. Brent turun sekitar 4% ke US$73,71 per barel, sementara West Texas Intermediate atau WTI jatuh 4,4% ke US$69,98 per barel. Penurunan WTI ke bawah US$70 menjadi perhatian pasar karena ini merupakan level terendah sejak awal Maret.
Tekanan utama datang dari tanda-tanda bahwa Selat Hormuz mulai kembali terbuka secara bertahap. Aktivitas pelayaran di jalur energi penting itu mulai pulih setelah konflik berbulan-bulan mengganggu arus minyak dan gas dari kawasan Teluk Persia. Sejumlah supertanker yang sebelumnya tertahan dilaporkan berhasil keluar dari Teluk dengan membawa muatan minyak mentah, sementara kapal LNG yang terhubung dengan Qatar juga mulai kembali berlayar melalui jalur tersebut.
Pasar membaca peningkatan aktivitas kapal sebagai sinyal awal bahwa arus energi regional mulai normal. Sentimen ini diperkuat oleh kemajuan hubungan Amerika Serikat dan Iran. Kedua negara disebut menyepakati roadmap 60 hari untuk menuju penyelesaian yang lebih luas, sementara Washington memberi waiver sanksi sementara yang memungkinkan sebagian ekspor minyak Iran kembali berjalan hingga Agustus.
Harapan kembalinya pasokan tambahan dari Iran membuat pasar melepas premi risiko perang yang sebelumnya menopang harga minyak. Jika ekspor Iran terus pulih dan jalur Hormuz tetap aman, pasokan global berpotensi meningkat. Kondisi ini membuat pembeli tidak lagi terburu-buru membayar harga tinggi seperti saat risiko gangguan pasokan masih besar.
Dari sisi persediaan, data American Petroleum Institute menunjukkan stok minyak mentah AS turun 765.000 barel pada pekan yang berakhir 19 Juni. Penurunan ini lebih kecil dari ekspektasi analis yang memperkirakan penurunan lebih besar. Di hub pengiriman WTI, Cushing, stok turun sekitar 1 juta barel. Namun, stok bensin naik 1,2 juta barel dan distilat bertambah 1,4 juta barel, memberi sinyal bahwa permintaan produk energi belum sepenuhnya kuat.
Ke depan, pasar akan menunggu data resmi dari Energy Information Administration untuk mengonfirmasi arah persediaan minyak AS. Jika data resmi menunjukkan stok tidak turun besar dan arus Hormuz terus membaik, tekanan terhadap harga minyak bisa berlanjut. Namun, jika stok Cushing makin ketat atau pembicaraan AS-Iran kembali menemui hambatan, harga minyak masih berpeluang memantul dari area rendah. (arl)
Sumber : Newsmaker.id