Saham AS Melemah, Produsen Chip Jadi Beban Utama
Indeks saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Jumat (26/6), dengan tekanan utama datang dari saham-saham chip setelah investor memangkas posisi pascareli sebelumnya. S&P 500 turun tipis 0,05%, Nasdaq 100 melemah 1,1%, sementara Dow Jones Industrial Average tergelincir 44 poin.
Saham semikonduktor menjadi pemberat utama pasar. Micron Technology turun 6,7% setelah sebelumnya sempat menguat berkat panduan kinerja yang solid. Tekanan juga menjalar ke saham chip besar lainnya, dengan Nvidia melemah 1,3% dan Broadcom turun 3,7%.
Aksi jual ini menunjukkan investor mulai lebih berhati-hati terhadap valuasi saham teknologi dan semikonduktor, terutama setelah reli kuat yang sebelumnya dipicu oleh optimisme terhadap kecerdasan buatan. Meski permintaan chip untuk AI masih dinilai kuat, pasar mulai mempertanyakan apakah belanja besar di sektor ini dapat terus menopang pertumbuhan laba.
Dow Jones juga bergerak lebih searah dengan indeks berbasis teknologi setelah Alphabet menggantikan Verizon dalam komposisi indeks tersebut. Meski melemah, Dow masih ditutup dekat level rekor tertinggi, menunjukkan bahwa tekanan pasar belum sepenuhnya menyebar ke seluruh sektor.
Kerugian Wall Street sempat tertahan oleh penurunan harga minyak. Bukti bahwa kapal tanker masih terus melintasi Selat Hormuz membantu memperbaiki prospek pasokan energi dari Timur Tengah. Kondisi ini meredakan kekhawatiran bahwa lonjakan harga minyak akan kembali memperburuk inflasi dan memaksa Federal Reserve menaikkan suku bunga beberapa kali lagi tahun ini.
Namun, sentimen pasar tetap berhati-hati setelah Presiden Donald Trump menuduh Iran melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan menembaki kapal kargo yang melintas di Selat Hormuz. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa ketegangan geopolitik di kawasan energi utama dunia masih rapuh dan berpotensi kembali memicu volatilitas harga minyak.
Dengan latar belakang tersebut, Wall Street masih berada di antara dua tekanan besar. Di satu sisi, pelemahan harga minyak membantu meredakan risiko inflasi. Namun di sisi lain, aksi jual saham chip dan ketidakpastian geopolitik membuat investor belum sepenuhnya kembali agresif mengambil risiko.(yds)
Sumber: Newsmaker.id