EIA Kejutkan Pasar, Brent-WTI Melonjak
Harga minyak menguat tajam pada Rabu (22/4), ditopang kombinasi data persediaan AS yang lebih ketat dari perkiraan dan meningkatnya risiko keamanan di Selat Hormuz di tengah mandeknya diplomasi AS–Iran. Brent ditutup naik US$3,43 (+3,48%) ke US$101,91/barel, sementara WTI menguat US$3,29 (+3,67%) ke US$92,96/barel. Keduanya memperpanjang reli setelah naik sekitar 3% sehari sebelumnya, dengan WTI sempat menguat lebih dari US$4 intraday.
Dari sisi fundamental, laporan EIA menunjukkan sinyal “produk ketat” meski stok crude naik. Persediaan minyak mentah AS bertambah 1,9 juta barel menjadi 465,7 juta, tetapi bensin justru turun 4,6 juta barel ke 228,4 juta (vs ekspektasi penurunan 1,5 juta). Distilat turun 3,4 juta barel ke 108,1 juta (vs estimasi penurunan 2,5 juta). Kejatuhan persediaan bensin dan distilat memberi sinyal permintaan/arus produk yang lebih ketat, menopang harga di tengah sensitivitas pada risiko pasokan.
Risiko geopolitik kembali dominan setelah laporan tembakan mengenai sedikitnya tiga kapal kontainer di Selat Hormuz dan penyitaan dua kapal oleh Angkatan Laut IRGC dengan alasan pelanggaran maritim, menurut Tasnim. Di tengah perang yang efektif membatasi arus Hormuz—jalur sekitar 20% minyak dan LNG global sebelum konflik—AS dan Iran sama-sama menerapkan pembatasan terhadap kapal yang melintas. Meski Trump menyatakan memperpanjang ceasefire tanpa batas pada Selasa, pembicaraan di Pakistan gagal terlaksana dan belum jelas apakah Iran maupun Israel menyetujui perpanjangan tersebut.
Di sisi diplomasi, Ketua Parlemen Iran Mohammad Baqer Qalibaf menegaskan gencatan senjata hanya masuk akal jika tidak “dilanggar” oleh blokade AS atas pelabuhan Iran, seraya menyebut pembukaan kembali Hormuz mustahil di tengah “pelanggaran terang-terangan” itu. Ketegangan juga merembet ke Lebanon: laporan menyebut empat orang tewas dalam serangan Israel di Lebanon selatan, sementara Hezbollah mengklaim meluncurkan drone ke pasukan Israel—menambah risiko bahwa konflik regional tetap mudah memanas.
Intinya, reli minyak kini digerakkan oleh dua kanal yang saling menguatkan: kekhawatiran pasokan (Hormuz/keamanan maritim) dan ketatnya produk (bensin-distilat). Pasar akan memantau pembuktian arus kapal di Hormuz, respons lanjutan Iran/AS, serta data persediaan berikutnya untuk melihat apakah tekanan beralih dari “risk premium” ke keketatan fisik yang lebih permanen. (Arl)*
Sumber: Newsmaker.id