Gold Menguat, Deal AS–Iran Redakan Tekanan Inflasi
Harga emas menguat ke level $4.323 pada sesi Asia Selasa (16/6) karena pasar merespons kesepakatan kerangka damai antara Amerika Serikat dan Iran. XAU/USD melanjutkan reli setelah Presiden Donald Trump, Wakil Presiden JD Vance, dan Ketua Parlemen Iran disebut telah menandatangani salinan elektronik memorandum of understanding untuk mengakhiri konflik.
Trump mengatakan Selat Hormuz “sudah sebagian dibuka” dan akan “dibuka sepenuhnya” pada Jumat. Kabar ini membuat tekanan pada minyak, yield Treasury, dan dolar AS ikut mereda. Bagi emas, kondisi tersebut menjadi dukungan penting karena penurunan minyak dapat mengurangi kekhawatiran inflasi energi, sementara dolar dan yield yang lebih lemah membuat emas lebih menarik.
Namun, pasar belum sepenuhnya tenang karena AS dan Iran masih memberi sinyal berbeda soal beberapa detail penting. Iran disebut ingin menarik biaya tertentu di jalur Hormuz, sementara Trump menyatakan jalur itu akan dibuka tanpa tol. Selain itu, Trump juga memperingatkan bahwa serangan militer bisa dimulai kembali jika Iran gagal mencapai kesepakatan nuklir final dengan AS.
Dari sisi kebijakan moneter, peluang kenaikan suku bunga Federal Reserve ikut menurun setelah deal AS–Iran. CME FedWatch menunjukkan peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember turun menjadi 58%, dari hampir 70% pekan lalu. Karena emas tidak memberikan imbal hasil, ekspektasi suku bunga yang lebih rendah cenderung membantu menjaga momentum bullion.
Fokus pasar berikutnya tertuju pada keputusan Fed pada Rabu. Bank sentral AS diperkirakan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%–3,75%, sambil menilai dampak lonjakan harga energi terhadap ekonomi. Untuk emas, arah berikutnya akan dipengaruhi oleh detail final deal AS–Iran, harga minyak, pergerakan dolar, yield AS, dan nada kebijakan Fed.
5 poin inti:
- Gold menguat di sesi Asia setelah kerangka damai AS–Iran diumumkan.
- Trump menyebut Hormuz sudah sebagian dibuka dan akan penuh pada Jumat.
- Minyak, yield, dan dolar yang melemah menjadi dukungan utama emas.
- Peluang kenaikan suku bunga Fed Desember turun ke 58% dari hampir 70%.
- Risiko tetap ada karena detail Hormuz dan kesepakatan nuklir belum final.(asd)*
Sumber: Newsmaker.id