Minyak Tertekan, Deal Hormuz Ubah Arah Pasokan
Harga minyak menuju rangkaian pelemahan terpanjang tahun ini setelah kesepakatan AS–Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz mengubah ekspektasi pasar terhadap pasokan global. Pada Selasa, (16/06) Brent turun di bawah US$83 per barel dan melemah untuk hari keempat, sementara WTI bergerak di sekitar US$80 per barel. Kesepakatan sementara itu dijadwalkan ditandatangani di Swiss pada Jumat, meski Washington dan Teheran belum merilis teks resmi memorandum tersebut.
Tekanan jual muncul karena pasar mulai menilai pasokan minyak dari Teluk Persia berpeluang pulih lebih cepat. Presiden Donald Trump mengatakan Selat Hormuz akan bersih dan kembali dibuka pada Jumat, bahkan menyebut beberapa jalur sudah tersedia. Pernyataan ini memperkuat ekspektasi bahwa hambatan ekspor minyak dari kawasan tersebut akan berkurang setelah sempat terganggu oleh perang dan blokade ganda dari Iran serta AS.
Sejumlah bank besar Wall Street ikut menyesuaikan proyeksi harga minyak. Morgan Stanley memangkas perkiraan Dated Brent untuk Juli–September menjadi rata-rata US$90 per barel, dari sebelumnya US$100 per barel, dan menurunkan outlook kuartal IV menjadi US$80 per barel. Goldman Sachs juga memangkas prospeknya, dengan asumsi ekspor Teluk Persia dapat kembali ke level sebelum perang pada akhir Juli, satu bulan lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.
Meski begitu, pasar belum sepenuhnya melepas risiko. Banyak detail kesepakatan masih perlu dinegosiasikan, termasuk keamanan pelayaran, aturan operasional, dan apakah Selat Hormuz benar-benar akan bebas biaya. Jalur ini membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia sebelum perang, sehingga kepastian operasional menjadi kunci bagi perusahaan pelayaran, trader, dan pembeli minyak sebelum arus pasokan benar-benar kembali normal.
Struktur pasar juga menunjukkan perubahan. Selisih harga dua kontrak Brent terdekat menyempit menjadi sekitar US$0,83 per barel pada Selasa, jauh lebih kecil dibandingkan lebih dari US$4 per barel sebulan lalu. Backwardation masih bertahan, tetapi penyempitan spread menunjukkan persepsi ketatnya pasokan mulai mereda seiring harapan pemulihan ekspor dari Teluk Persia.
Secara fundamental, penurunan minyak dapat membantu meredakan risiko inflasi energi dan mengurangi tekanan terhadap bank sentral, termasuk Federal Reserve, yang pekan ini menilai arah suku bunga. Namun, selama teks kesepakatan belum dirilis dan arus Hormuz belum kembali normal, volatilitas masih mungkin bertahan. Fokus pasar berikutnya adalah penandatanganan Jumat, laporan bulanan International Energy Agency, volume kapal yang melintas, serta kecepatan pemulihan ekspor dari Teluk Persia. (asd)*
Sumber: Newsmaker.id