Minyak Naik Jelang Tenggat Gencatan Senjata, Pasar Tunggu Arah AS-Iran
Harga minyak menguat pada hari Selasa (21/4) seiring pelaku pasar menunggu peluang pembicaraan AS-Iran, sementara tenggat perpanjangan gencatan senjata kian dekat dan kedua pihak masih buntu. Brent diperdagangkan di sekitar US$96 per barel setelah melonjak hampir 6% pada Senin, sedangkan WTI Juni berada di kisaran US$88.
Kenaikan harga mencerminkan premi risiko geopolitik yang kembali menebal, terutama karena Iran belum mengonfirmasi kehadiran dalam pembicaraan lanjutan di Pakistan sebelum gencatan senjata berakhir Rabu. Ketegangan berpusat pada sejumlah isu, termasuk akses ke Selat Hormuz, jalur sempit yang menjadi chokepoint bagi sekitar seperempat perdagangan minyak laut global.
Dari Washington, Presiden Donald Trump mengatakan Wakil Presiden JD Vance siap berangkat untuk negosiasi, tetapi menegaskan AS tidak akan terburu-buru mencapai kesepakatan. Trump juga mengancam operasi militer dapat dilanjutkan jika kedua negara tidak mencapai perjanjian, menambah ketidakpastian arah eskalasi setelah gencatan senjata berakhir.
Pergerakan minyak dalam beberapa hari terakhir digerakkan oleh perubahan persepsi pasar terhadap dua hal: peluang tercapainya kesepakatan dan kelancaran navigasi di Hormuz. Jika pertempuran kembali menyala atau akses pelayaran terganggu, pasar menilai krisis energi global bisa memburuk karena risiko pasokan meningkat cepat.
Fokus pelaku pasar kini tertuju pada konfirmasi jadwal pembicaraan, sinyal perpanjangan atau berakhirnya gencatan senjata, serta perkembangan operasional di Selat Hormuz. Selain itu, pasar juga memantau isu-isu lain yang masih menggantung, termasuk kapabilitas nuklir Iran dan dinamika kawasan yang disebut turut membentuk latar risiko. (Arl)*
Sumber : Newsmaker.id