Minyak Turun 5% Usai Muncul Sinyal De-eskalasi Selat Hormuz
Harga minyak turun tajam pada Rabu (25/3) setelah muncul sinyal de-eskalasi terkait Selat Hormuz, di tengah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa Washington dan Teheran “sedang berada dalam negosiasi,” meski Iran tetap membantah adanya pembicaraan langsung. Pelemahan minyak mencerminkan pasar yang cepat “mengurangi” premi risiko ketika muncul indikasi arus pelayaran dapat kembali berjalan—meski masih bersyarat.
Kontrak berjangka Brent turun 5,5% ke $98,72/barel, sementara WTI melemah 5,1% ke $87,65/barel. Dari Oval Office, Trump mengatakan ia mundur dari ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran “karena kami sedang bernegosiasi.” Trump juga menyebut Iran “berbicara masuk akal” saat ditanya alasan perubahan sikap tersebut.
Pada Selasa malam, The New York Times melaporkan AS telah mengirimkan proposal 15 poin untuk mengakhiri perang, mengutip dua pejabat anonim. Proposal itu disebut disampaikan melalui Pakistan, namun belum jelas seberapa luas dokumen tersebut beredar di kalangan pejabat Iran, dan apakah Israel—yang turut menyerang Iran bersama AS—akan mendukungnya.
Sementara itu, seorang juru bicara komando militer gabungan Iran memperingatkan pasar minyak akan tetap volatil dan menilai harga tidak akan normal hingga stabilitas regional tercapai di bawah kendali militernya, menurut Reuters. Di sisi lain, misi Iran untuk PBB menyatakan kapal “non-hostile” dapat melintas di Hormuz asal berkoordinasi dengan otoritas Iran yang berwenang. Pernyataan ini mengisyaratkan protokol yang mulai terbentuk dalam beberapa hari terakhir, ketika sebagian kapal dari China, India, dan Pakistan dilaporkan mampu melintas di jalur tersebut—seiring Iran memperlihatkan kontrol atas selat itu.
Krisis Timur Tengah telah mengganggu berat ekspor minyak melalui Hormuz sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Jalur ini biasanya membawa sekitar seperlima aliran minyak dan LNG dunia, sekaligus menjadi choke point penting untuk perdagangan pupuk. Dengan munculnya sinyal “pembukaan bersyarat”, pelaku pasar kini menilai ulang seberapa lama gangguan pasokan akan bertahan—dan apakah langkah diplomasi benar-benar mengarah pada stabilisasi.
Inti Newsmaker: minyak terkoreksi tajam karena pasar menangkap peluang arus kapal di Hormuz bisa membaik, meski tetap di bawah aturan Iran. Selama status negosiasi masih simpang siur dan akses Hormuz masih “selektif”, volatilitas diperkirakan tetap tinggi dan harga akan mudah bergerak mengikuti headline.(yds)
Sumber: newsmaker.id