• Wed, Mar 25, 2026|
  • JKT --:--
  • TKY --:--
  • HK --:--
  • NY --:--

Market & Economic Intelligence Platform Insight on Macro, Commodities, Equities & Policy

25 March 2026 16:40  |

Minyak Turun 5% Usai Muncul Sinyal De-eskalasi Selat Hormuz

Harga minyak turun tajam pada Rabu (25/3) setelah muncul sinyal de-eskalasi terkait Selat Hormuz, di tengah klaim Presiden AS Donald Trump bahwa Washington dan Teheran “sedang berada dalam negosiasi,” meski Iran tetap membantah adanya pembicaraan langsung. Pelemahan minyak mencerminkan pasar yang cepat “mengurangi” premi risiko ketika muncul indikasi arus pelayaran dapat kembali berjalan—meski masih bersyarat.

Kontrak berjangka Brent turun 5,5% ke $98,72/barel, sementara WTI melemah 5,1% ke $87,65/barel. Dari Oval Office, Trump mengatakan ia mundur dari ancaman serangan terhadap infrastruktur energi Iran “karena kami sedang bernegosiasi.” Trump juga menyebut Iran “berbicara masuk akal” saat ditanya alasan perubahan sikap tersebut.

Pada Selasa malam, The New York Times melaporkan AS telah mengirimkan proposal 15 poin untuk mengakhiri perang, mengutip dua pejabat anonim. Proposal itu disebut disampaikan melalui Pakistan, namun belum jelas seberapa luas dokumen tersebut beredar di kalangan pejabat Iran, dan apakah Israel—yang turut menyerang Iran bersama AS—akan mendukungnya.

Sementara itu, seorang juru bicara komando militer gabungan Iran memperingatkan pasar minyak akan tetap volatil dan menilai harga tidak akan normal hingga stabilitas regional tercapai di bawah kendali militernya, menurut Reuters. Di sisi lain, misi Iran untuk PBB menyatakan kapal “non-hostile” dapat melintas di Hormuz asal berkoordinasi dengan otoritas Iran yang berwenang. Pernyataan ini mengisyaratkan protokol yang mulai terbentuk dalam beberapa hari terakhir, ketika sebagian kapal dari China, India, dan Pakistan dilaporkan mampu melintas di jalur tersebut—seiring Iran memperlihatkan kontrol atas selat itu.

Krisis Timur Tengah telah mengganggu berat ekspor minyak melalui Hormuz sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Jalur ini biasanya membawa sekitar seperlima aliran minyak dan LNG dunia, sekaligus menjadi choke point penting untuk perdagangan pupuk. Dengan munculnya sinyal “pembukaan bersyarat”, pelaku pasar kini menilai ulang seberapa lama gangguan pasokan akan bertahan—dan apakah langkah diplomasi benar-benar mengarah pada stabilisasi.

Inti Newsmaker: minyak terkoreksi tajam karena pasar menangkap peluang arus kapal di Hormuz bisa membaik, meski tetap di bawah aturan Iran. Selama status negosiasi masih simpang siur dan akses Hormuz masih “selektif”, volatilitas diperkirakan tetap tinggi dan harga akan mudah bergerak mengikuti headline.(yds)

Sumber: newsmaker.id

Related News

OIL

Harga Minyak Naik Dua Hari Beruntun, Ditopang Optimisme Daga...

Minyak naik untuk hari kedua di tengah optimisme atas perundingan perdagangan AS menjelang batas waktu minggu depan, dan kare...

25 July 2025 10:56
OIL

API Laporkan Lonjakan Stok AS, Minyak Melunak!

Harga minyak melemah tipis pada Rabu pagi setelah data American Petroleum Institute (API) menunjukkan kenaikan persediaan min...

18 March 2026 08:44
OIL

Brent Terombang-ambing, Pasar Bingung Antara Sanksi dan Paso...

Harga minyak mengalami pergerakan yang tidak stabil pada hari Selasa (15/07), di tengah ketidakpastian pasar atas dampak kebi...

15 July 2025 21:42
OIL

Brent Turun Tipis, Risiko Hormuz Mengintai

Harga minyak terkoreksi tipis dalam perdagangan Asia yang sepi, saat pelaku pasar menunggu hasil pembicaraan AS–Iran di Jen...

17 February 2026 12:45
BIAS23.com NM23 Ai