Minyak Turun, Dorongan Diplomasi AS ke Iran Pangkas Premi Risiko
Harga minyak melemah pada Rabu (25/3) setelah AS meningkatkan dorongan diplomasi untuk mengakhiri perang dengan Iran, menggeser fokus pasar dari eskalasi militer meski Selat Hormuz masih sebagian besar tertutup. Brent sempat turun hingga sekitar 7% menuju US$97/barel sebelum memangkas pelemahan, sementara WTI berada di sekitar US$89, mencerminkan premi risiko perang mulai dipangkas.
Menurut sumber yang mengetahui, AS menyusun rencana 15 poin untuk mengakhiri konflik dan menyampaikannya ke Iran melalui Pakistan. Di saat yang sama, pemerintahan Trump memerintahkan pengerahan sekitar 2.000 personel Divisi Lintas Udara ke-82 ke kawasan, saat Gedung Putih menimbang opsi untuk mengurangi kendali Iran atas Hormuz. Westpac menilai pasar bergerak dari fase ancaman “maksimal” menuju endgame negosiasi, meski kurangnya kepercayaan kedua pihak membuat prosesnya berpotensi rumit.
Namun, sinyal dari Teheran tetap keras. Harga berjangka sempat memangkas penurunan setelah Iran meluncurkan gelombang rudal baru ke Israel dan menyatakan kecil peluang kompromi, termasuk penolakan pembicaraan gencatan senjata menurut media pemerintah. Iran juga menyiratkan tidak akan membiarkan harga minyak kembali ke level sebelumnya selama ancaman terhadap negara itu belum hilang, menandakan risiko pasokan belum terselesaikan.
Meski koreksi harian dalam, minyak masih mengarah ke kenaikan bulanan besar di tengah volatilitas pekan keempat perang. Inti masalah tetap Hormuz: Iran memperketat kontrol sehingga aliran minyak dan gas dari produsen Teluk ke pasar global terganggu, memicu kekhawatiran krisis energi. Perubahan sikap AS yang cepat—dari ancaman serangan, lalu memberi waktu pembicaraan, hingga mengirim proposal—membuat harga sangat reaktif terhadap headline.
Pasar juga menanti detail proposal dan apakah Israel mendukung pendekatan tersebut. Sejumlah analis menilai koreksi harga mencerminkan “pemotongan premi risiko perang”, namun belum bisa dibaca sebagai kondisi aman karena Iran membantah pembicaraan langsung, aktivitas militer berlanjut, dan pengerahan pasukan masih berjalan. Kunci bagi pasar adalah bukti jalur aman pelayaran, karena safe passage Hormuz akan menjadi fondasi dari kesepakatan apa pun.
China ikut mendorong diplomasi, dengan Menlu Wang Yi meminta Iran segera bernegosiasi dengan AS. Bagi pasar, pergeseran menuju gencatan senjata bisa menurunkan premi risiko, tetapi selama arus Hormuz belum pulih dan serangan berlanjut, volatilitas kemungkinan tetap tinggi.(yds)
Sumber: Newsmaker.id