Minyak Tergelincir, Pasar Bereaksi pada Dorongan Diplomasi AS untuk Gencatan Senjata Iran
Harga minyak turun tajam setelah laporan bahwa AS mendorong jalur diplomasi untuk mengakhiri perang dengan Iran, menutup sentimen yang sebelumnya didorong risiko eskalasi militer. Brent sempat jatuh hingga 4,4% ke bawah US$100 per barel, sementara WTI bergerak di sekitar US$88, menandakan pasar mulai mengurangi premi risiko ketika peluang gencatan senjata kembali dibahas.
Media Israel Channel 12 melaporkan Washington mengupayakan gencatan senjata satu bulan untuk membuka ruang perundingan. Secara terpisah, New York Times melaporkan AS mengirim rencana 15 poin kepada Iran untuk mengakhiri konflik. Kabar tersebut “mengalahkan” berita pengiriman pasukan tambahan AS, termasuk rencana pengerahan sekitar 2.000 personel Divisi Lintas Udara ke-82, saat Gedung Putih menimbang opsi untuk mengurangi kendali Iran atas Selat Hormuz.
Meski begitu, perang yang kini memasuki pekan keempat masih meninggalkan dampak pasokan yang besar. Teheran disebut memperketat kontrol atas Hormuz dan menghambat aliran minyak serta gas dari produsen Teluk ke pasar global, memicu kekhawatiran krisis energi. Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan ada “kemungkinan baru” diplomasi, tetapi operasi militer AS akan tetap berjalan.
Iran menyatakan kapal asing boleh melintas selama tidak mendukung tindakan agresi dan mematuhi regulasi Teheran, menurut surat yang diedarkan ke anggota IMO. Israel juga belum menunjukkan tanda mereda, dengan serangan dilaporkan berlangsung di Teheran. Dalam laporan Channel 12, Israel disebut khawatir terhadap proposal gencatan senjata dan menilai kecil kemungkinan Iran menerimanya, sehingga arah negosiasi tetap belum pasti.
China ikut mendorong jalur perundingan. Menurut pernyataan pemerintah, Menlu Wang Yi meminta Menlu Iran Abbas Araghchi untuk segera terlibat negosiasi dengan AS. Dorongan ini relevan karena China merupakan pembeli utama minyak Iran, dan setiap stabilisasi arus Hormuz akan berdampak langsung pada pasokan Asia. Pelaku pasar menilai jalur aman di Hormuz akan menjadi “batu penjuru” dari kesepakatan apa pun.
Di sisi hilir, guncangan sudah terasa pada produk minyak. Harga diesel AS rata-rata nasional telah melampaui US$5/galon dan di California menembus US$7/galon, sementara Australia melaporkan ratusan SPBU mengalami kekurangan pasokan. Di AS, kilang dan pembeli global mengejar suplai alternatif; ekspor minyak AS diperkirakan naik bulan depan. Pada 08:01 di Singapura, Brent Mei turun 4,3% ke US$99,99, dan WTI Mei turun 4,1% ke US$88,61. (asd)
Sumber : Newsmaker.id