Minyak Menguat di Tengah Ketidakpastian De-eskalasi Iran saat Konflik Terus Berlangsung
Harga minyak mencatat kenaikan solid pada Selasa, ketika pelaku pasar masih diliputi ketidakpastian mengenai validitas potensi pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Presiden AS Donald Trump kembali menegaskan negosiasi masih berjalan dan menyatakan Iran telah sepakat untuk “tidak pernah memiliki senjata nuklir,” meski di lapangan konflik disebut masih berlanjut tanpa tanda-tanda mereda.
Kontrak berjangka Brent (Juni/Mei—kontrak yang berakhir Mei) sebagai patokan global naik 3,6% ke $99,36 per barel pada pukul 15:38 ET (19:38 GMT). Sementara WTI menguat 4% ke $91,66 per barel, menandakan premi risiko kembali masuk setelah gejolak tajam sehari sebelumnya.
Sebelumnya pada Senin, minyak sempat jatuh hingga sekitar 14% setelah Trump menunda sementara ancaman serangan terhadap jaringan listrik Iran, seraya menyebut ada pembicaraan “sangat baik dan produktif” dengan pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya. Namun, pasar kemudian kembali ragu karena Iran membantah adanya pembicaraan, sementara eskalasi di medan konflik masih terjadi—membuat arah pasar kembali sangat headline-driven.
Dalam pernyataan pada Selasa saat acara pelantikan Menteri Keamanan Dalam Negeri AS, Trump mengatakan, “Iran setuju mereka tidak akan pernah memiliki senjata nuklir.” Ia menambahkan bahwa Menlu AS Mark Rubio dan Wakil Presiden JD Vance termasuk pihak yang terlibat dalam proses negosiasi.
Trump juga menyebut Iran memberikan AS sebuah “hadiah besar bernilai banyak uang.” “Itu memberitahu saya bahwa kami bernegosiasi dengan orang yang tepat. Itu hadiah terkait minyak dan gas,” kata Trump, tanpa menjelaskan detail lebih lanjut. Komentar tersebut menambah lapisan spekulasi baru di pasar energi yang sudah sensitif terhadap setiap pernyataan resmi.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id