Minyak Ditutup di Level Tertingginya Sejak 2022 Terkait Perang Iran
Harga minyak global ditutup pada level tertinggi sejak pertengahan 2022 seiring pasar menilai risiko eskalasi perang Iran masih tinggi dan kecil peluang konflik mereda dalam waktu dekat. Brent menetap di atas $112 per barel, memperpanjang kenaikan mingguan menjadi sekitar 9% di tengah kondisi Selat Hormuz yang nyaris tertutup total.
Selat Hormuz—jalur yang menyalurkan sekitar 20% minyak dunia—tetap menjadi pusat kekhawatiran utama karena arus pelayaran masih sangat terbatas. Sejumlah tanda eskalasi baru pada Jumat ikut memperkuat sentimen bullish, termasuk laporan CBS News yang menyebut Pentagon menyiapkan opsi kemungkinan pengerahan pasukan darat AS ke Iran. Laporan itu mengutip sumber anonim dan menekankan statusnya masih opsi, dengan ketidakjelasan kondisi apa yang akan membuat Trump menyetujuinya.
Di saat yang sama, pejabat AS mengatakan Gedung Putih mengirim ratusan Marinir ke Timur Tengah ketika mempertimbangkan rencana untuk merebut hub ekspor minyak Iran di Kharg Island. Langkah sekecil apa pun terkait pengerahan pasukan darat dipandang berisiko tinggi bagi Presiden Donald Trump dan membuka potensi balasan Teheran—termasuk serangan terhadap infrastruktur energi vital yang dapat memperparah gangguan pasokan.
Reli harga juga dipicu laporan Bloomberg bahwa pejabat Iran semakin enggan membahas pembukaan kembali Selat Hormuz karena fokus utama mereka adalah bertahan menghadapi serangan AS–Israel. “Minyak menutup pekan yang volatil dan sangat digerakkan headline, dengan penguatan menjelang akhir pekan ketika trader mengurangi eksposur short,” kata Rebecca Babin, senior energy trader di CIBC Private Wealth.
Menurut Babin, kenaikan hari itu mencerminkan memburuknya retorika dari Iran, minimnya bukti aliran normal melalui Selat, serta laporan yang belum terkonfirmasi bahwa Kharg Island bisa menjadi bagian dari skenario, bersamaan dengan peningkatan postur militer di kawasan.
Di pasar derivatif, investor terlihat menambah taruhan kenaikan harga. Data mingguan ICE Futures Europe menunjukkan manajer dana menambah posisi net-long bullish Brent secara agresif, mencerminkan stance bullish terkuat dalam lebih dari enam tahun (berdasarkan data hingga Selasa).
Secara bulanan, Brent telah naik hampir 50% karena perang mendekati akhir pekan ketiga. Penutupan Hormuz yang hampir total membuat pasokan “terjebak” di Teluk Persia dan memaksa produsen OPEC utama memangkas output. Di lapangan, Iran tetap melancarkan serangan ke negara-negara Teluk, sementara PM Israel Benjamin Netanyahu berjanji menahan diri untuk tidak menarget fasilitas energi Iran. Trump, di sisi lain, berupaya menurunkan tensi serangan terhadap aset minyak dan gas, tetapi juga kembali mengkritik sekutu NATO yang tidak ikut perang atau membantu membuka Hormuz.
Serangan ke ladang gas South Pars awal pekan ini diikuti pembalasan Iran ke sejumlah fasilitas penting di kawasan, mendorong harga minyak mentah dan gas Eropa melonjak tajam, sementara para pejabat berupaya menahan efek domino terhadap inflasi dan pertumbuhan global.
Pada penutupan, Brent kontrak Mei naik 3,3% dan ditutup di $112,19 per barel—tertinggi sejak Juli 2022. WTI kontrak Mei naik 2,8% dan ditutup di $98,23 per barel. Kontrak April yang kurang aktif (dan berakhir pada Jumat) naik 2,3% dan ditutup di $98,32 per barel.(mrv)
Sumber : Newsmaker.id