Minyak Melonjak Mendekati $120
Harga minyak menembus US$117 per barel pada Senin, 9 Maret, setelah sejumlah produsen utama Timur Tengah memangkas produksi dan pengapalan melalui Selat Hormuz dilaporkan hampir terhenti. Brent sempat melonjak hingga 24% menjadi US$114,99 per barel, sementara WTI melonjak 27% pergerakan intraday terbesar sejak April 2020 mencerminkan premi risiko pasokan yang kembali mendominasi pasar energi.
Gangguan pasokan fisik kian terasa karena Kuwait dan Uni Emirat Arab mulai mengurangi output, sementara Irak telah melakukan penutupan sebagian produksi sejak pekan lalu. Penutupan Hormuz memperparah kemacetan karena jalur sempit itu biasanya menangani sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, ditambah serangan terhadap infrastruktur energi yang ikut mengerek harga minyak dan gas.
Ketegangan geopolitik juga memperkuat kekhawatiran “gelombang inflasi” baru. Harga bensin ritel AS dilaporkan naik ke level tertinggi sejak Agustus 2024, sementara Presiden Donald Trump menyatakan menyatakan jangka pendek sebagai “biaya kecil” dan menilai harga akan turun saat ancaman nuklir Iran “berakhir,” namun juga membuka kemungkinan perluasan target serangan. Di Iran, pergantian kepemimpinan tertinggi dilaporkan terjadi, dengan Garda Revolusi menyatakan loyalitas, sementara AS memerintahkan sebagian pegawai di Arab Saudi untuk meninggalkan negara tersebut menurut laporan media.
Pasar kini menilai risiko kenaikan lebih lanjut tetap terbuka jika hambatan logistik dan penutupan aliran terus berlanjut. JPMorgan memperkirakan penutupan produksi di Timur Tengah bisa meluas hingga lebih dari 4 juta barel per hari pada akhir pekan depan jika pengisian stok dan kemacetan bertahan, sementara ancaman terhadap fasilitas energi meningkat, termasuk insiden drone menuju ladang Shaybah dan gangguan di fasilitas Ras Tanura. Indikasi keketatan jangka dekat juga terlihat dari prompt spread Brent yang melebar ke lebih dari US$8,98 per barel dalam backwardation, dari sekitar 62 sen per bulan lalu menandakan pasokan spot semakin ketat di tengah risiko geopolitik yang belum mereda.(Asd)
Sumber: Newsmaker.id