Perak Naik, Fed dan Hormuz Jadi Penentu
Harga perak bergerak di sekitar US$70 per ons pada sesi perdagangan Eropa Selasa (16/6), setelah reli kuat pada sesi sebelumnya. Perak spot berada di sekitar US$70,29 per ons, sementara Comex silver futures sebelumnya naik 3,25% ke US$70,066 per ons. Penguatan ini terjadi setelah kesepakatan awal AS–Iran meredakan kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi energi.
Katalis utama datang dari rencana pembukaan kembali Selat Hormuz. Kesepakatan sementara AS–Iran dijadwalkan ditandatangani di Swiss pada Jumat, dengan Presiden Donald Trump menyatakan arus minyak dari Teluk Persia akan kembali lancar setelah deal berlaku. Jika Hormuz kembali dibuka, tekanan harga minyak dapat mereda dan risiko inflasi energi ikut turun.
Bagi perak, transmisi fundamentalnya mirip dengan emas. Minyak yang lebih rendah dapat menekan ekspektasi inflasi dan mengurangi peluang bank sentral menaikkan suku bunga secara agresif. Kondisi ini mendukung logam mulia karena dolar dan yield yang lebih lemah biasanya membuat perak lebih menarik bagi investor global.
Namun, pasar masih berhati-hati karena Washington dan Teheran belum merilis teks resmi memorandum. Detail pembukaan Hormuz, keamanan pelayaran, serta implementasi teknis masih menjadi risiko. Karena itu, pergerakan perak di dekat US$70 masih berpotensi bergejolak menjelang penandatanganan Jumat.
Fokus berikutnya tertuju pada keputusan Federal Reserve pekan ini. The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga, tetapi pasar akan mencermati nada Ketua baru Kevin Warsh terhadap inflasi dan prospek suku bunga. Jika Fed terdengar hawkish, perak bisa tertahan; sebaliknya, sinyal yang lebih seimbang dapat membantu menjaga momentum logam mulia.(Arl)
Sumber : Newsmaker.id