Emas Pertahankan Rally, Fed Masih Mengintai
Harga emas mempertahankan penguatannya pada Selasa (16/6) setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan Selat Hormuz berpotensi dibuka kembali pada Jumat. Spot gold naik 0,8% ke US$4.346,46 per ons pada pukul 10.14 waktu London, melanjutkan kenaikan 2,2% pada sesi sebelumnya. Silver juga menguat 0,9% ke US$70,62, sementara platinum dan palladium ikut bergerak positif.
Kenaikan emas didorong oleh harapan bahwa kesepakatan sementara AS–Iran dapat mengakhiri perang dan mencabut blokade maritim di kawasan tersebut. Jika Hormuz kembali dibuka, arus energi global berpeluang membaik dan tekanan harga minyak dapat mereda. WTI bergerak dekat US$79 per barel setelah turun hampir 5% pada Senin, sementara Brent berada di sekitar US$81 per barel.
Bagi emas, penurunan minyak menjadi katalis penting. Selama perang berlangsung sejak akhir Februari, harga energi yang tinggi memperkuat risiko inflasi dan mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi tersebut menekan emas karena logam mulia tidak memberikan imbal hasil. Karena itu, ketika minyak turun dan risiko inflasi mulai mereda, tekanan terhadap emas ikut berkurang.
Meski begitu, pasar belum sepenuhnya tenang. Sekutu AS disebut masih kurang optimistis mengenai seberapa cepat arus energi dan komoditas melalui Hormuz bisa kembali normal. Selain itu, kesepakatan AS–Iran masih perlu diformalkan dan detail teknis pembukaan jalur pelayaran belum sepenuhnya jelas.
Pelaku pasar logam mulia juga menunggu keputusan bank sentral pekan ini, terutama Federal Reserve di bawah Ketua baru Kevin Warsh. Ekspektasi pasar masih mengarah pada kemungkinan kenaikan suku bunga tahun ini. Jika The Fed terdengar hawkish, ruang kenaikan emas bisa tertahan; tetapi jika yield dan dolar tetap melemah, emas berpeluang mempertahankan momentum pemulihan.
Secara fundamental, arah emas saat ini ditentukan oleh tiga faktor utama: implementasi pembukaan Hormuz, arah harga minyak, dan sinyal suku bunga The Fed. Selama minyak tetap rendah dan dolar melemah, emas masih mendapat dukungan. Namun, jika deal AS–Iran tersendat atau The Fed kembali menekankan risiko inflasi, volatilitas XAU/USD dapat meningkat kembali.(Arl)
Sumber : Newsmaker.id