Minyak Melemah, Pasar Tunggu Detail Pembukaan Hormuz
Harga minyak kembali melemah pada Selasa (16/6) setelah anjlok ke level terendah tiga bulan pada sesi sebelumnya. Investor masih menunggu detail kesepakatan sementara AS–Iran yang diharapkan dapat membuka kembali Selat Hormuz dan memulihkan arus energi dari kawasan Teluk.
Pada pukul 05.09 ET atau 09.09 GMT, Brent kontrak Agustus turun 2,1% ke US$81,41 per barel, sementara WTI kontrak Juli melemah 2,4% ke US$78,83 per barel. Kedua acuan sebelumnya jatuh hampir 5% pada Senin setelah AS dan Iran mengumumkan kesepakatan awal untuk memperpanjang gencatan senjata selama 60 hari dan membuka blokade Hormuz.
Penurunan ini menunjukkan sebagian besar premi risiko geopolitik mulai keluar dari harga minyak. Selama konflik Teluk, risiko gangguan pasokan membuat harga minyak bertahan tinggi. Kini, pasar mulai menilai bahwa jika Hormuz benar-benar dibuka, pasokan minyak dapat kembali meningkat dan tekanan harga energi berpotensi mereda.
Namun, pasar belum sepenuhnya yakin. Trump menyebut Hormuz dapat dibuka penuh pada Jumat, saat AS dan Iran dijadwalkan menandatangani kesepakatan di Swiss. Tetapi perusahaan pelayaran, asuransi, dan produsen masih membutuhkan kepastian soal keamanan jalur, biaya asuransi, serta seberapa cepat kapal yang tertahan bisa kembali beroperasi normal.
Dari sisi fundamental, minyak juga mendapat tekanan dari prospek permintaan yang lebih lemah. OPEC pekan lalu memangkas proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global 2026 menjadi sekitar 970.000 barel per hari, dari perkiraan sebelumnya 1,17 juta barel per hari. Kombinasi ekspektasi pasokan pulih dan permintaan yang lebih hati-hati membuat ruang rebound minyak menjadi terbatas.
Meski begitu, risiko volatilitas belum hilang. Persediaan energi sudah banyak terkuras selama penutupan Hormuz, sehingga keterlambatan implementasi kesepakatan atau hambatan dalam pembukaan jalur pelayaran dapat kembali memicu kekhawatiran pasokan. Fokus pasar berikutnya adalah detail resmi kesepakatan, penandatanganan Jumat, arus kapal aktual di Hormuz, dan sinyal apakah ekspor minyak Teluk benar-benar bisa kembali normal.(Arl)
Sumber : Newsmaker.id