Brent Melonjak, Penutupan Hormuz Guncang Energi dan Saham
Harga minyak mentah melonjak di atas US$100 per barel untuk pertama kalinya sejak 2022, sementara saham-saham melemah seiring eskalasi permusuhan di Timur Tengah yang memperketat tekanan pada pengiriman dan infrastruktur energi. Di tengah gelombang risk-off, dolar menguat karena investor bersiap menghadapi volatilitas baru.
Kontrak Brent naik sekitar 15% ke kisaran US$107 per barel, melanjutkan reli besar dari pekan sebelumnya. Pasar kini menghadapi prospek gejolak lanjutan karena konflik yang melibatkan Iran memasuki minggu kedua, saat sejumlah produsen utama membatasi output dan lalu lintas melalui Selat Hormuz—jalur vital perdagangan minyak—secara efektif terhenti.
Kenaikan harga energi mendorong investor mengurangi eksposur pada aset berisiko dan beralih ke instrumen yang dianggap lebih aman. Dolar menguat terhadap seluruh mata uang G-10, sementara tekanan inflasi akibat minyak yang lebih mahal ikut mengerek imbal hasil di beberapa pasar obligasi; di saat bersamaan, kontrak berjangka indeks ekuitas AS melemah dan saham Asia ikut terkoreksi. Menariknya, tekanan juga merambah sebagian aset lindung nilai seperti emas dan perak, menunjukkan pasar berada dalam fase deleveraging yang agresif.
Sejumlah pelaku pasar menilai fokus risiko tak lagi semata pada Hormuz yang “tertutup”, melainkan pada gangguan pasokan yang menyebar lebih dalam di kawasan. Dave Mazza dari Roundhill Financial menilai pergeseran ini berpotensi mendorong investor yang sudah gelisah untuk mengurangi risiko lebih jauh, karena implikasinya dapat langsung memengaruhi ketersediaan pasokan dan biaya energi global.
Dari sisi geopolitik, serangan dan ancaman balasan terus meningkat: Iran meningkatkan serangan terhadap negara-negara tetangga, Israel dilaporkan menyerang target energi di Teheran, dan Presiden Donald Trump memberi sinyal opsi penargetan yang lebih luas. Di sisi pasokan, Uni Emirat Arab dan Kuwait mulai mengurangi produksi, memperkuat kekhawatiran bahwa pengetatan energi dapat memunculkan dilema baru bagi pasar: risiko inflasi dari minyak yang mahal di satu sisi, dan tanda pendinginan di pasar tenaga kerja AS yang di sisi lain dapat menguatkan alasan pelonggaran moneter.(alg)
Sumber: Newsmaker.id