Reli Minyak Berlanjut, Output Dipangkas dan Tanker Tertahan
Harga minyak melanjutkan penguatan pada Kamis (5/3) seiring eskalasi perang AS–Israel dengan Iran terus mengganggu pasokan dan mengangkat kekhawatiran atas arus energi di Selat Hormuz. Brent terakhir berada di US$83,76 per barel (sekitar +1,5%), sementara WTI bergerak di kisaran US$76,9 per barel (sekitar +3,0%).
Pasar menilai pengetatan tidak hanya terjadi pada crude, tetapi mulai merembet ke produk olahan. Reuters melaporkan pemerintah China meminta kilang besar menangguhkan ekspor diesel dan bensin, sementara kontrak diesel Eropa melonjak ke level tertinggi sejak 2022—indikasi ketatnya pasar refined fuels ketika risiko logistik meningkat.
Fokus utama tetap pada Selat Hormuz setelah lalu lintas kapal keluar-masuk chokepoint tersebut nyaris terhenti dan muncul laporan serangan serta insiden di sekitar rute tanker. Ketidakpastian keamanan pengapalan dan biaya asuransi/freight menjaga premi risiko tetap tebal, sekaligus memaksa sebagian pelaku pasar menghitung ulang ketersediaan pasokan jangka pendek.
Gangguan juga mulai mengubah peta produksi. Pejabat Irak mengatakan output dipangkas sekitar 1,5 juta barel per hari karena keterbatasan penyimpanan dan jalur ekspor, sementara Qatar menyatakan force majeure untuk ekspor LNG—menambah risiko ketatnya suplai energi bila normalisasi memakan waktu lebih lama.
Ke depan, pasar akan memantau bukti pemulihan trafik tanker di Hormuz, stabilitas infrastruktur energi kawasan, serta sejauh mana pemangkasan output Irak dan gangguan LNG Qatar bertahan. Selama indikator-indikator fisik ini belum membaik, volatilitas minyak berpotensi tetap tinggi meski ada headline de-eskalasi. (Arl)
Source: Newsmaker.id