Minyak Melonjak, Gangguan Hormuz Picu Premi Risiko
Harga minyak dan gas alam melonjak pada Senin (2/3) setelah serangan Israel dan AS terhadap Iran—serta pembalasan Teheran—memicu penutupan sejumlah fasilitas energi di Timur Tengah dan memperparah gangguan pengiriman di Selat Hormuz, jalur energi paling strategis di dunia.
Di pasar minyak, Brent sempat melonjak hingga sekitar $82,37/barel (sekitar +13%) sebelum turun dan diperdagangkan di kisaran $79,14/barel pada 14:03 GMT. WTI naik ke sekitar $72,07/barel setelah sebelumnya sempat menyentuh $75,33, menegaskan pasar masih sangat “headline-driven”.
Gangguan suplai semakin nyata setelah laporan bahwa Arab Saudi menutup kilang besar domestik Ras Tanura akibat serangan drone, sementara QatarEnergy menghentikan produksi LNG dan bersiap menyatakan force majeure untuk pengiriman. Penutupan/pengetatan operasi ini memperbesar risiko kekurangan pasokan jangka pendek, terutama bila eskalasi berlanjut.
Tekanan terbesar tetap berada pada Selat Hormuz. Eskalasi di sekitar jalur tersebut membuat sejumlah kapal tanker mengalami kerusakan, aktivitas pelayaran terganggu, dan ratusan kapal dilaporkan tertahan/menunggu. Pasar kini menilai pertanyaan kunci adalah berapa lama arus kapal melalui Hormuz akan terganggu dan seberapa kuat stok importir—terutama di Asia—untuk menahan shock pasokan.
Secara makro, reli minyak yang berlarut-larut berisiko menghidupkan kembali inflasi lewat kenaikan biaya energi dan logistik, sekaligus mengancam pemulihan ekonomi global. Di AS, kenaikan harga bensin ritel juga berpotensi kembali menjadi isu sensitif, sehingga fokus pelaku pasar tertuju pada durasi konflik dan normalisasi pengiriman energi.(alg)
Sumber: Newsmaker.id