Minyak Naik, Negosiasi AS–Iran Buntu — Risiko Hormuz Mengintai
Harga minyak menguat pada Jumat (27/2) setelah pembicaraan nuklir AS–Iran berakhir tanpa kesepakatan yang jelas, memicu kekhawatiran bahwa jalur “militer” masih mungkin terjadi dan dapat mengganggu pasokan dari Timur Tengah. Pada 07:50 ET (12:50 GMT), Brent April naik 2,4% ke $72,54/barel, sementara WTI menguat 2,6% ke $66,89/barel.
Meski tidak ada “deal”, kedua pihak memberi sinyal negosiasi akan berlanjut. Mediator Oman menyebut pembicaraan teknis dijadwalkan minggu depan di Wina, namun ketiadaan terobosan membuat pasar tetap memasang premi risiko. ING menilai pasar saat ini telah memasukkan premi risiko yang besar akibat ketidakpastian dan potensi eskalasi—bahkan bisa mencapai sekitar $10/barel.
Di saat yang sama, pasar juga memantau faktor suplai dari Amerika Latin. Pejabat AS menyebut penjualan minyak di bawah kesepakatan pasokan AS–Venezuela diproyeksikan mencapai sekitar $2 miliar hingga akhir Februari, yang berpotensi menambah pasokan global dalam beberapa pekan/bulan ke depan—faktor yang bisa menjadi “rem” jika pasar mulai fokus pada risiko glut 2026.
Fokus berikutnya: perkembangan lanjutan AS–Iran (khususnya risiko di Selat Hormuz) dan rapat OPEC+ terkait kebijakan suplai. Selama belum ada kepastian, harga minyak cenderung sangat reaktif terhadap headline—mudah reli saat tensi naik, tapi juga rawan koreksi jika diplomasi kembali dianggap progresif.(yds)
Sumber: Newsmaker.id