Kesepakatan AS-Iran Masih Menyisakan Ketidakpastian di Hormuz
AS dan Iran bersiap menandatangani kesepakatan perdamaian sementara di Swiss pada Jumat, tetapi pasar energi masih menilai pembukaan kembali Selat Hormuz belum sepenuhnya pasti. Teks memorandum kesepahaman 14 poin yang mencakup perpanjangan gencatan senjata dua bulan dan negosiasi lanjutan soal program nuklir Iran belum dipublikasikan.
Seorang pejabat senior AS menyebut dokumen itu kemungkinan dirilis sebelum upacara penandatanganan di Jenewa. Delegasi AS diperkirakan dipimpin Wakil Presiden JD Vance, sementara Iran kemungkinan diwakili Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Presiden Donald Trump, yang berada di Prancis untuk KTT G7, menyebut kesepakatan itu sudah selesai, tetapi menegaskan AS tidak akan menginvestasikan dana di Iran atau membayar kompensasi perang.
Fokus pasar tidak hanya berada pada penandatanganan, melainkan pada seberapa cepat Hormuz dapat kembali beroperasi normal. Jalur ini menjadi perhatian karena gangguan selama perang telah mendorong lonjakan harga energi. Negara-negara G7 seperti Prancis, Inggris, dan Italia diperkirakan dapat berperan dalam operasi pembersihan ranjau sebelum lalu lintas kapal kembali stabil.
Italia disebut telah menyiapkan empat kapal untuk dikirim ke Selat Hormuz, termasuk dua kapal penyapu ranjau yang berada di Djibouti. Hal ini menunjukkan bahwa pembukaan selat bukan hanya isu diplomatik, tetapi juga bergantung pada kesiapan keamanan maritim. Selama aspek teknis belum jelas, premi risiko geopolitik masih dapat bertahan dalam harga energi.
Harga minyak telah turun sejak Trump menyatakan kesepakatan semakin dekat. Brent melemah 3,6% menjadi sedikit di atas $80 per barel pada Selasa, turun untuk hari keempat berturut-turut dari level tertinggi $125 pada akhir April. Penurunan tersebut mencerminkan ekspektasi bahwa AS dan Iran akan mempertahankan jalur diplomasi, sementara permintaan yang lebih rendah di China dan pelepasan cadangan minyak darurat turut menekan harga.
Namun, perbedaan posisi AS dan Iran masih menjadi risiko. Teheran ingin dana pembangunan sebesar $300 miliar dimasukkan dalam MOU dan mengklaim perang telah menimbulkan kerugian ekonomi lebih dari $250 miliar. Washington menegaskan akses terhadap dana beku dan pelonggaran sanksi tidak akan diberikan langsung setelah penandatanganan, melainkan bertahap sesuai pemenuhan syarat oleh Iran.
Pasar juga masih menunggu apakah Iran akan mengizinkan kapal melintas bebas setelah periode negosiasi 60 hari. Sinyal Teheran untuk mengenakan biaya navigasi dapat memengaruhi biaya logistik energi global. Fokus berikutnya tertuju pada publikasi teks MOU, mekanisme pembukaan Hormuz, posisi Iran soal biaya navigasi, dan komitmen G7 dalam pengamanan jalur maritim.(gn)
Sumber: Newsmaker.id